Lihat ke Halaman Asli

Dilema Pinjam-Meminjam Buku

Diperbarui: 17 Juni 2015   23:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

14114147291921693187

[caption id="attachment_325145" align="aligncenter" width="448" caption="Pria Inggris kembalikan buku perpustakaan setelah 46 tahun pinjam. (Sumber ilustrasi di bawah artikel ini.)"][/caption]

Oleh MUCH. KHOIRI

TELAH satu jam lamanya saya mencari buku karya David Chaney yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan diberi pengantar oleh Idi Subandy Ibrahim, dengan judul Lifestyles: Sebuah Pengantar Komprehensif. Biasanya, buku ini saya gunakan sebagai buku pelengkap untuk mengajar matakuliah Popular Culture Studies.

Sejurus kemudian saya teringat, bahwa buku tersebut telah dipinjam oleh seseorang yang hingga kini belum mengembalikannya. Ini bukan perkara harganya, melainkan urgensinya buku itu untuk kepentingan mengajar. Satu lagi, waktu saya satu jam telah terbuang percuma hanya gara-gara mencari buku yang seharusnya tinggal ambil di rak saja.

Gemas juga sebenarnya saya terhadap peminjam itu. Namun, saya masih berbesar hati, dengan harapan bahwa buku itu telah dimanfaatkan oleh peminjam untuk bahan referensi membuat makalah (paper), atau dipahaminya dengan tuntas. Sekurang-kurangnya, saya berharap si peminjam membacanya dengan baik sehingga buku itu berguna dan mencerdaskan dia. Ini artinya saya membantu dia meningkatkan kemampuan diri.

Dengan prasangka baik itu saya pun beranjak ke sebuah toko buku, tak jauh dari kampus saya, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Setelah menyetir 25 menit, dan 5 menit menemukan tempat parkir yang nyaman, sampailah saya masuk ke dalam toko buku itu. Setelah cek index di komputer, ternyata buku David Chaney itu tidak tersedia. Saya benar-benar gemas sekarang.

Dalam perjalanan kembali ke kampus, saya teringat kata senior saya yang juga pecinta buku. “Meminjamkan buku itu bodoh. Lebih bodoh lagi, peminjam yang mengembalikan buku pinjamannya.” Kata-kata yang sudah lama disampaikannya (secara berkelakar) itu kembali terngiang di dalam benak saya. Bahkan, seakan ungkapan itu membayang dan mengolok-olok saya saat ini.

Betapa tidak, dengan prasangka baik, saya telah meminjamkan buku Chaney itu kepada si peminjam. Seharusnya saya berpikir bahwa buku itu diperoleh dengan membeli, dan bahwa salah-satu syarat menuntut ilmu itu adalah mengeluarkan biaya. Seharusnya saya menanamkan pemahaman kepada si peminjam bahwa menuntut ilmu tidaklah gratis, dan karena itu dia seharusnya membeli sendiri buku itu. Namun, karena prasangka baik saya, apalagi dia berjanji untuk mengembalikannya segera, maka buku itu berpindah tangan—yang, hingga detik ini, belum pernah kembali.

Itulah mungkin kebodohan saya, yang saya lakukan setahun silam. Entah di mana di peminjam itu berada sekarang, karena dia sulit saya hubungi. Wah, saya jadi dibayangi pikiran negatif terhadapnya—ada sedikit penyesalan mengapa dulu buku itu saya pinjamkan padanya. Sebenarnya, jika ada stock-nya di toko buku, saya bisa membelinya dengan mudah. Sayangnya, stock-nya habis di beberapa toko buku terdekat.

Kolega senior saya itu telah berpengalaman salam pinjam-meminjam buku, dan beberapa tahun ini dia tidak pernah membolehkan orang lain meminjam bukunya. Jika terpaksa ada orang meminjam untuk foto kopi, dia akan menunggu si peminjam hingga selesainya fotokopi. Lain kata, hari itu juga buku tersebut harus kembali ke tangannya. Pinjam-meminjam buku harus tuntas-transaksi dalam satu hari, begitu kira-kira pikirnya.

Kini saya malah teringat lanjutan ungkapan kolega senior saya, “....Lebih bodoh lagi, peminjam yang mengembalikan buku pinjamannya.” Nah, kelakar kolega itu kini ada benarnya. Maksudnya, sepertinya si peminjam memang tidak sedang beritikad baik untuk mengambalikan buku itu, seakan dia ingin memilikinya, entah apa alasannya—sesuatu yang tak perlu diungkap di sini, tentunya.

Mengapa ungkapan itu menemukan pembenarannya? Sungguh, ada belasan atau bahkan puluhan buku saya berada dalam pinjaman orang lain, dan saya telah begitu bodoh meminjamkan buku-buku itu dengan niat baik. Namun, kebodohan saya, dengan meminjamkan buku itu, ternyata malah menyebabkan para peminjam itu “menjadi bodoh” andaikata mengembalikan buku-buku itu. Secara tak sengaja saya telah menyebabkan peminjam itu berbuat dhalim kepada saya.

Karena itu, kinilah saatnya untuk bersikap. “Para peminjam buku saya, dengan tulus, saya mohon maaf karena telah membuat Anda menjadi serakah dan melik (merasa memiliki) atas buku-buku yang saya pinjamkan. Karena itu, agar Anda tidak menambah dosa lagi, saya mohon maaf pula, mulai detik ini saya tidak akan mememinjami Anda satu pun buku saya.”***

Surabaya, 22/9/2014

Sumber ilustrasi: http://news.detik.com/read/2009/07/16/040002/1165874/10/pria-inggris-kembalikan-buku-perpustakaan-setelah-46-tahun-pinjam




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline