Lihat ke Halaman Asli

Monique Rijkers

TERVERIFIKASI

G30S dan Supersemar dari Mata Tarzie Vittachi, Seorang Wartawan Asing di Jakarta

Diperbarui: 20 September 2017   12:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber: dok.pribadi

Pagi 1 Oktober 1965, Soeharto berada di Markas Kostrad. Mengutip buku "The Fall of Sukarno" yang ditulis Tarzie Vittachi, Soeharto mengaku, "Tidak ada yang lebih menyenangkan dari pertemuan dengan Nasution pagi itu,"

Tarzie, wartawan Srilanka peraih penghargaan Ramon Magsaysay pada 1959, mengungkapkan sebuah "fakta baru". Pada bab VIII, Tarzie menuturkan pasukan Cakrabirawa dijadwalkan menculik Soeharto pada pukul 2 subuh, setelah Yani dan Nasution. Penculikan diskenariokan berakhir pukul 5 pagi. Giliran disesuaikan dengan kegiatan masing-masing. Lolosnya Soeharto menurut Tarzie merupakan "strange stories", perpaduan antara mistik dan takdir. Soeharto lolos dari penculikan karena ia percaya pada "dukun".

Empat hari sebelum 29 September, dukun atau guru (juga ditulis miring) meminta Soeharto untuk tidak berada di rumahnya sebelum pukul 2 subuh pada malam 30 September. Soeharto disarankan untuk menghabiskan malam dengan menyembah Tuhan di mana air bertemu. Soeharto patuh dan menyingkir di sebuah muara, melewatkan malam selama lima jam dengan berzikir. Sesudahnya Soeharto kembali ke rumah dan mendapati keramaian tak biasa di depan rumah. Beberapa truk dan jip terparkir di sana. Soeharto langsung menuju Markas Tentara dan berusaha menghubungi Yani, Suprapto dan Haryono. Tetapi gagal. Saat jelang dini hari itulah Soeharto mengetahui para jenderal telah wafat. Kisah ini, jika sungguh terjadi merupakan satu fakta baru, entah di mana Tarzie mendapatkannya.

Cerita lain yang diungkap Tarzie adalah proses lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret. Sebagai wartawan, mestinya ia hadir ketika Soekarno menggelar rapat dengan para menteri pada 11 Maret 1966. Kesan Tarzie mengikuti sidang kabinet terlihat dari cara ia menuturkan kejadian saat itu. Pagi itu, Soekarno terlihat menyakinkan dan rileks dengan t-shirt, tanpa sepatu. Cukup dengan sandal kamar. Justru Soebandrio dan Chaerul Saleh, keduanya Deputi Perdana Menteri yang terlihat tegang. Mungkin karena Soeharto dan Sultan dari Yogyakarta tak tampak menghadiri sidang. Di luar Istana, demonstrasi mahasiswa masih berlangsung. Setengah dari anggota kabinet tak kuasa untuk menerobos jalan ke istana sehingga membutuhkan helikopter untuk mengantar mereka.

Jelang tengah hari, Sumirat, polisi kepresidenan mendatangi Soekarno dan menyerahkan sepotong kertas. Presiden lantas membacanya dan tergopoh-gopoh meminta jas. Soekarno membisikkan sesuatu kepada Deputi Perdana Menteri Leimena sembari meninggalkan ruangan. Sepatu tak sempat dipakai. Sandal ditenteng, menuju helikopter di halaman. Leimena mengambil alih pimpinan rapat, yang tak lagi dipedulikan oleh menteri-menteri. Tarzie berkomentar sepotong kertas itu sebagai salah satu dokumen bersejarah, meski lebih singkat dari empat baris teks kemerdekaan Indonesia. "Istana sekarang dikelilingi pasukan tak dikenal," isi pesan itu. Tarzie tak berhasil mendapat informasi siapa penulis pesan tersebut. Dugaannya, Brigjen Moh. Sabur, pimpinan Cakrabirawa yang baru atau Jenderal Soeharto.

Sebagai wartawan, Tarzie jeli melihat pemandangan yang tak biasa pada 11 Maret itu. Mortar mengarah ke istana. Petang hari, kegiatan tentara di Jakarta dan Bogor berlangsung berlebihan. KOSTRAD dan RPKAD sedang "show of force", sebagai sebuah pesan kepada Soekarno, analisis Tarzie.

"The Fall of Sukarno", buku terbitan 1967 ini sesungguhnya berhasil menceritakan kembali beragam versi Supersemar. Pertama adalah versi Amir Machmud yang diceritakan kepada Idham Chalid dari Nahdatul Ulama. Ketiga utusan Soeharto: Jenderal Amir Machmud, Jenderal Basuki Rachmat dan Jenderal Andi Muhammad Yusuf berkendara ke Bogor hampir tanpa percakapan. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing dan kebingungan bagaimana membuka pembicaraan dengan Sang Presiden. 

Amir Machmud mengaku memulai pembicaraan. "Bapak, keadaan sangat sulit. Mengapa tidak serahkan pada kami untuk menyelesaikannya?"

Presiden menyahut dengan, "Baiklah, buatlah sebuah surat perintah." Soekarno kemudian berlalu ke kamar, meninggalkan ketiga utusan untuk menyusun surat perintah, berpatokan pada kisi-kisi yang telah disiapkan Soeharto. Tarzie tidak menuliskan berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyusun surat perintah. Setelah surat selesai, Soekarno menerima surat tersebut, membacanya, mengangguk dan mengucap Bismillah sebelum menandatangani. Versi kedua dari Supersemar diperoleh Tarzie dari, entahlah. Kali ini Tarzie menuliskan ketiga jenderal mendatangi Soekarno dengan ultimatum. Jika Presiden Soekarno menolak, akan berlangsung unjuk kekuatan pada keesokan hari. 

Fakta yang diperoleh Tarzie menyebut, Soekarno balik bertanya apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi demonstrasi mahasiswa. M. Yusuf menjawab, "Hanya Soeharto yang bisa mengatasi situasi." M. Yusuf menegaskan, "Soeharto bisa, jika diberi otoritas untuk bertindak dalam nama Soekarno." Versi ini mengungkap, konsep surat perintah disusun oleh tentara-tentara itu. Saat Soekarno akan menandatangani, Subandrio membacanya dan mengomentari, "Tetapi, ini menyerahkan semua kekuasaan kepada Soeharto!"

Presiden berkomentar, "Setuju," sembari membubuhkan tanda tangan. Tengah malamnya, Soeharto memberitakan lewat siaran radio kewenangan yang ia peroleh. Tindakan pertama yang akan ia lakukan adalah melarang Partai Komunis Indonesia, PKI. Selain itu Soeharto memastikan putusan mati terhadap Untung dan Nyono.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline