" Sus selamat pagi, boleh tahu nggk suster, diberi makan apa ya untuk anak saya ini, supaya badannya gempi ?"
"Eemm anak manis ini umur berapa bulan ya Bu?' tanyaku
"7 bulan Suster" jawab ibu itu.
" Biasanya diberi makan apa ?", sahutku
" hanya Asi sus"
"Oh, boleh dicoba besok kalau ada pisang hijau, diserut dengan sendok supaya lembut, trus disuapkan, nanti kalau mau, baru dibuatkan aneka bubur", lanjutku.
"Terima kasih, suster untuk resepnya"
"Kembali kasih Bu"
Itu sekilas pengalamanku sewaktu saya masih sangat muda, ditugaskan untuk menggantikan susterku selama satu bulan di kota kecil di Jawa tengah. Orang-orang berpikir seperti ibu itu, bahwa suster ( Biarawati ) seperti saya ini di pandang "besus tur pinter " serba bisa dan berpengetahuan, jadi sering dimintai penunjuk, nasihat dan semacamnya, padahal kami tidak punya anak.meski soal mengurus anak kami harus bisa apalagi jika ditugaskan di Panti Asuhan.
Hal semacam ini membuatku untuk terus belajar tentang kehidupan ya membaca buku, ya observasi, perhatian dengan setiap peristiwa, supaya saya dapat berbagi dengan masyarakat yang kulayani.
Untunglah sebagai anak sulung, saya biasa menyuapi adik saya dan menolong ibu membuatkan makanan adik saya ketika masih bayi, pengalaman itu berguna hingga saat ini ketika saya melayani di kota maupun di desa, bertemu ibu-ibu yang minta bantuan aneka persoalan termasuk makanan anak.