Sejak di Ahava pandanganku senantiasa tertuju pada The Dead Sea = Laut Mati yang nampak biru indah dari kejauhan, tidak ada gelombang, bak cermin biru yang membentang, apalagi ketika mentari memantulkan sinar dipermukaan, makin indah dan cemerlang.Setelah para rombongan ibu-ibu puas memborong kosmetik, bus kami menuju lokasi the Dead Sea, yang tidak jauh dari Ahava. Jalannya menurun kebawah, matahari masih cemerlang disore itu.
Ketika persiapan ziarah selama 2X berturut-turut kami mendapat penerangan & pengetahuan dari Pater Robby, tentang tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Salah satu pesan agar para peserta jangan meninggalkan kesempatan untuk mandi di Laut Mati, agar awet muda, demikian kelakarnya. Namun jangan sampai airnya tertelan airnya sangat berbahaya karena mengandung kalium baja jangan mengenai mata, akan sangat pedih perih sekali. Peringatan tersebut diulangi lagi ketika kami mau ke Dead Sea.
Saya sendiri begitu ingin merasakan bagaimana sensasinya mengapung di Laut Mati. Para ibu-ibu ingin sekali melihat saya melepas sleyur =kerudung kepala dan habyt. Beberapa dari mereka bertanya :" Suster akan ikut nyebur di Laut Mati juga?", " Ya dong mumpung di di Tanah Suci, ini khan rangkaian dari ziarah, tapi saya bukannya nyebur, melainkan mengambang", jawabku. Banyak ibu-ibu yang ingin sekali melihat saya, namun ketika saya sudah berganti pakaian mereka tidak mengenali saya sehingga sibuk mencari. Yang mengenali tentu yang bersama-sama dengan saya.
Sesampai di Laut Mati, tua, muda bahkan ada ibu yang berusia 80 tahun memanfaatkan kasiat kandungan mineral, dan kalium nan tinggi di Laut Mati.Semua mandi dan berendam, ada yang duduk dikursi dan melumuri tubuhnya dengan lumpur. Ada yang begitu mengambang lalu menjulurkan tangan menengadah kelangit sambil meneriakan syukur. Saya perlahan jongkok, seperti yang disarankan Pater Robby, kemudian langsung merebahkan diri, dan luar biasa, badan sungguh mengapung bergerak sendiri, kunikmati betapa agungnya Tuhan menata segalanya.
Kebanyakan dari kami menikmati sensasi mandi di Laut Mati, dengan tenang, tanpa kegaduhan,seolah semua terserap dalam meditasi. Hanya untuk menikmati bagaimana tubuh ini mengapung dengan nyaman, relax, dan bisa bergerak sendiri. Maka untuk kembali duduk, saya selalu mencari gundukan lumpur yang bisa menahan tangan atau kaki untuk bisa duduk kembali.
Saya sungguh kagum meskipun sudah diterangkan bagaimana tubuh bisa mengambang sendiri, namun kekaguman dan rasa syukur boleh mengalami mengapung di Laut Mati sungguh membual tanpa henti. Rasanya memang sangat rilex, penuh rasa syukur. Kami semua menikmati tanpa takut kejangkitan penyakit, yah karena semua jadi steril dengan kandungan garam nan tinggi. Rasa syukurku begitu meluap, sambil melihat keindahan langit nan makin meredup dirembang petang, kurasakan inilah tempat paling rendah dibumi ini.
Laut Mati dalam bahasa Ibrani: , keladi Ham Mla, "Laut Garam", juga Ibrani: , keladi HamMwe, "Laut Kematian", Kalau dalam bahasa Arab: al-Bahr al-Mayyit juga disebut Laut Garam. Letaknya antara Jordan ke timur dan Israel dan Tebing Barat ke barat. Merupakan tempat paling rendah dibumi ini.
Pada saat kami akan menuju Jericho, kami sampai pada Sea Level, tempat yang setara dengan permukaan laut. Tour Guide kami meminta kami untuk memperhatikan dan merasakan terjadinya dengungan di telinga kami, karena kami akan menuju tempat yang terendah dibumi / dibawah dipermukaan laut.Tak lupa kami mengabadikannya sewaktu sampai di Sea Level = batas permukaan laut, kami berfoto ria baik secara pribadi maupun dalam rombongan.
Laut Mati memiliki permukaan pantainya adalah 423 meter kira --kira 1,388 kaki di bawah permukaan laut, yang merupakan ketinggian bumi yang paling rendah di atas tanah. Dan kedalaman Laut Mati adalah 377 m (1,237 kaki) merupakan, tasik hypersaline terdalam di dunia.
Dengan kadar garam 33.7%,merupakan juga salah satu dari beberapa Laut yang mempunyai kadar garam tertinggi didunia walaupun terdapat juga beberapa danau yang memiliki kadar garam yang tinggi antara lain : Lembah Kering McMurdo di Antartika (seperti Don Juan Pond) yang memiliki kadar keasinan 8.6 kali lebih asin daripada lautan. Ada lagi yaitu danau Ada Band (Djibouti), Garabogazkl dan beberapa danau hypersaline yang lain, namun kadar garamnya tidak mampu menandingi kadar garam Laut Mati, sehingga kalau dirasakan bukan asin lagi melainkan pahit.
Perbatasan Laut Mati & Jericho/dokpri
Mengapa bisa demikian? Aliran air dari Laut Mati berasal dari sungai Yordan, dan tidak ada tempat untuk mengalirkan lagi, sehingga garam berkumpul disitu dan menjadikan kadar garam yang begitu tinggi, membuat tempat disekitarnya mengeras dan tidak ada binatang yang dapat hidup.