Galau
Matahari musim hujan terbit sungguh luar biasa. Aku menghirup udara segar dan menikmati keindahan nabastala. Suasana tenang, lembut dan damai mulai menenangkan hatiku yang GALAU.Sepanjang malam, aku menggumuli peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari sebelumnya. Tampaknya semua orang menentangku, aku tidak sependapat dengan setiap orang disekitarku, dan beberapa teman dekatku.Mengapa setiap orang begitu aneh?. Aku menggerutu, kemudian dalam tetang fajar berwarna lembut Allah seakan-akan berbicara kepadaku, Allah berbisik. "Kamu yang perlu berubah". Aku memandang bulan yang masih memantulkan cahaya matahari, Engkau juga harus memantulkan Allah.
Aku telah memantulkaan keinginanku yang keras kepala, dan dengan melakukan hal itu, aku telah mengesampingkan orang-orang yang paling kupedulikan. Aku tidak dapat menjadi saksi Tuhan, kalau aku menunjukan suatu pantulan dosa yang ada dalam diriku kepada mereka. Aku harus membiarkan mereka melihat Allah.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H