Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Natsir Tahar

TERVERIFIKASI

Writerpreneur Indonesia

Apakah Kita Lebih Hebat atau Lebih Lemah Dibanding Ilmuan Klasik?

Diperbarui: 25 Maret 2019   10:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi: bebrainfit.com

Betapa lebarnya kartu nama para ilmuan klasik jika semua profesinya ditulis sekaligus seperti ini: matematikawan, astronom, meteorologiwan, geolog, ahli ilmu hewan, ahli botani, farmakolog, agronom, arkeolog, etnograf, ahli kartografi, penyusun ensiklopedia, diplomat, insinyur herdraulika, penemu, rektor universitas, menteri keuangan, dll.

Mereka benar adanya. Pemilik kartu nama itu adalah Shen Kuo, seorang genius abad ke - 11 dengan temuannya antara lain kompas magnetik dan fosil. Itu baru pekerjaan resmi, di samping perkara lainnya yang ia tekuni dengan suka ria seperti menulis puisi dan menggubah musik.

Shen adalah Leonardo da Vinci-nya Cina. Seperti Leonardo, dia merekam ide - idenya dalam sebuah buku catatan, pernah hilang berabad - abad dan ditemukan belakangan ini. Sebagaimana ilmuan - ilmuan Barat yang menaruh minat amat banyak pada segala bidang, ilmuan - ilmuan Muslim hampir mudah ditemukan secara acak adalah seorang generalis, multi talenta.

Ilmuan Muslim lah yang terlebih dahulu membuka pintu gerbang itu, mereka memperkenalkan kesaktian trio Socrates, Plato, Aristoles - ketiganya memiliki "kartu nama" terpanjang pada masanya - ketika Eropa masih tidur panjang.

Sejarah telah membuktikan betapa jazirah Arab dan sekitarnya telah melahirkan banyak sarjana dan ilmuwan hebat dalam bidang falsafah, sains, politik, kesusasteraan, kemasyarakatan, agama, pengobatan, dan sebagainya mendahului Renaisans di Eropa Barat. Bukan seorang mengambil satu spesialisasi, tapi hampir semua diborong dengan cemerlang oleh orang per orang.

Di antaranya adalah Al-Farabi yang dikenal sebagai: fisikawan, kimiawan, filosof, ahli ilmu logika, ilmu jiwa, metafisika, politik, musik, dan masih banyak lagi yang dilakoni secara serentak. Filosof muslim terkemuka lainnya adalah Ibnu al-Haitham, biarpun ia lebih dikenal dalam bidang sains dan medis, tetapi juga ahli dalam bidang agama, falsafah, dan astronomi.

Indonesia sedikitnya memiliki Umar Kayam, merupakan sosok serba bisa yang pernah hidup dan berkarya di republik ini. Ia berprofesi sebagai dosen, ilmuwan, pejabat, cerpenis, hingga pemain film. Ayahnya, memberinya nama Umar Kayam karena terinspirasi pada seorang generalis sufi, filosof, ahli perbintangan, ahli matematika, dan pujangga kenamaan asal Persia yang hidup pada abad ke-12 bernama Omar Khayam.

Bagaimana dengan manusia kekinian, manusia era milenial - digital yang serba ringkas dan instans ini? Sebelum era ini lahir, dunia telah melewati suatu pertengkaran kecil antara kaum generalis serba bisa dengan kaum spesialis yang muncul belakangan.

Kaum generalis mengkritik kaum spesialis atas asumsi bahwa mereka terlalu mengkotak-kotakkan pekerjaan dan mengkhususkan segala sesuatu yang dianggap mudah dan bisa dilakukan sekaligus tapi dipecah-pecah menjadi beberapa macam profesi. Misalnya ilmu Fisika yang mulai diturunkan menjadi keahlian mekanika, keahlian teori, energi kuantum, keahlian konsep gaya, impuls, momentum, relativitas, listrik dinamis dan statis, cahaya dan bunyi.

Sementara kaum spesialis berpikir bahwa spesialisasi merupakan jalan tepat dalam penguasaan salah satu aspek dalam kehidupan manusia secara komprehensif. Meskipun tidak holistik yaitu tidak menguasai seluruh bidang ilmu, namun spesialis menekankan pada keunggulan optimal pada salah satu bidang saja. Sisi buruknya sebagaimana yang diprediksi kaum generalis mereka sangat rentan terhadap ketidaktahuan dan ketergantungan pada orang lain.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline