Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Natsir Tahar

TERVERIFIKASI

Writerpreneur Indonesia

Pada Akhirnya Kita Semua Dipecat

Diperbarui: 4 Maret 2019   07:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi: charteredaccountantsworldwide.com

 

Pada saat roda ditemukan, ribuan pasang kaki diistirahatkan. Kuda-kuda dipekerjakan untuk menarik pedati. Begitu Henry Ford memproduksi cetak biru Oldsmobile pada 1910, orang-orang mulai berpikir untuk memecat kuda sekaligus kusirnya. Kusir diganti sopir yang merayakan era revolusi mobil dalam satu abad. Dan tidak lama lagi semua sopir dipecat.

Umat manusia akan menghadapi senjakala tiada ampun terhadap semua jenis pekerjaan yang menopang mereka. Kuda-kuda terlatih mampu mengendus, mencintai, mengenali wajah, melompati pagar, dan melakukan ribuan hal yang tidak bisa ditiru oleh Ford Model T dan Lamborghini seharga satu juta dolar, tapi tetap saja mereka dipecat. Mungkin beberapa kuda pernah meringkik menolak surat pemecatan, namun pemuja mesin uap mana yang peduli. Begitu pula dengan manusia di masa depan.

Sopir-sopir bahkan siapapun yang berada di belakang kemudi akan segera menjemput istirahat panjang mereka begitu setir mandiri Google terotomatisasi (Google's Driverless Cars, 2005) sudah terkoneksi ke seluruh jaringan jalan raya yang dipandu oleh sistem algoritma. Kabar gembiranya, kita tidak lagi menemukan kemacetan panjang dan kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh human error.

Sebut saja semua jenis pekerjaan manusia abad ini: pegawai bank, arsitek, tentara, pialang saham, penjahit, PNS atau akuntan, apa saja. Alat-alat pemindai fMRI misalnya, akan berfungsi sebagai mesin yang nyaris tidak pernah keliru. "Lalu apalagi yang tersisa bagi jutaan pengacara, hakim, polisi, dan detektif?," kata Jordan Weissman dalam jurnalnya berjudul iLawyers. Kabar gembiranya belum ada yang bisa menyuap sebongkah mesin.

Wartawan bisa saja membesar-besarkan hati bahwa robot Quakebot paling-paling hanya mampu menulis straight news dalam hitungan detik yang kering sentuhan humanis dan sastrawi. Bahkan para ahli sudah berencana menyusun algoritma yang mampu memberi sentuhan itu, semudah mereka meniru melodi yang menyamai komposer Johann Sebastian Bach melalui teknologi EMI (Experiments in Musical Intelligence). Kabar gembiranya, tidak ada lagi salah-salah ketik dan berita hoaks.

Begitu pula dengan dokter, Watson dari IBM sedang mengembangkan kecerdasan artifisial yang mampu mendeteksi penyakit sekaligus mengenyahkan kemungkinan malapraktik dokter manusia. Bahkan mereka mampu menyusun kata-kata dan mendeteksi emosi pasien, serta menyampaikan kabar duka.

Ketika fenomena ini sudah dekat dan mulai melahap karier anak -anak kita yang saat ini menyerap materi-materi konvensional yang panjang dan melelahkan di sekolah dan kampus mereka, haruskah mereka mengulang dari nol untuk mempelajari hal-hal baru.

Lalu siapa yang menjamin akan ada kelas-kelas usang macam itu. Ketika guru atau dosen digital non manusia, menolak mengajar di papan tulis berbiaya murah, tapi menganjurkan sebuah helm super mahal yang mampu mentransfer semua ilmu dan keahlian yang harus dimiliki manusia sepanjang hidupnya hanya dalam hitungan menit.

Jika hal tersebut dapat dilakukan kepada manusia-manusia kloning dalam film The Island dan Moon misalnya, maka juga bisa dilakukan kepada manusia. Sebelum sampai ke sana, mari kita perhatikan ancaman yang ditimbulkan oleh printer 3D yang kini sudah mampu menciptakan organ tubuh manusia, mem-print out robot cantik mirip Scarlet Johansen, mencetak mobil super dengan akselerasi dari nol sampai 100 kilometer per jam hanya dalam waktu 2,5 detik, serta membangun rumah super cepat dengan biaya hanya lima persen dari cara manual.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline