Lihat ke Halaman Asli

MITA TRESIA

Guru Fisika

Koneksi Antar Materi Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Pendidikan

Diperbarui: 7 Desember 2022   00:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Mita Tresia -CGP Angkatan 6

Kabupaten Barito Selatan - Kalimantan Tengah 

SMKN 1 Buntok

Seorang guru tidak hanya menjalankan tugas mengajar dan mendidik murid di sekolah. Namun, guru juga memiliki peran lain yang penting dan saling berhubungan. Berdasarkan pandangan Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat anak. Berkaitan dengan hal tersebut, maka ada satu peran penting yang harus dijalankan guru, yakni sebagai coach.

Coach adalah seseorang yang membantu orang lain (coachee) untuk mencapai suatu tujuan atau menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi melalui kegiatan coaching

Coaching berbeda dengan mentoring, training, konseling dan pendekatan lainnya. Perbedaan utamanya adalah seorang coach tidak memberikan solusi kepada coachee, melainkan menuntun coachee untuk memunculkan solusi dari dalam dirinya sendiri dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berbobot. Coaching juga tidak harus dilakukan oleh seorang yang lebih ahli atau berpengalaman, karena dalam coaching menerapkan prinsip kemitraan.

Keterampilan inti yang perlu dikembangkan dalam melakukan coaching adalah kehadiran penuh, mendengarkan aktif dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berbobot. Dengan keterampilan ini, guru dapat menjadi seorang coach bagi murid maupun rekan sejawat.

Coaching penting dilakukan guru terhadap murid, di antaranya untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar maupun kebutuhan dasar yang ingin dipenuhi murid. Kebutuhan belajar ini yang akan menjadi landasan guru dalam merancang pembelajaran berdiferensiasi agar semua kebutuhan belajar murid dapat terakomodir. Selain itu, coaching bagi murid bermanfaat bagi perkembangan sosial emosional murid. Karena dapat membantu mereka belajar menyadari dan memaksimalkan potensi diri untuk memecahkan permasalahannya sendiri. Melalui coaching, maka banyak hal positif akan berkembang dalam diri murid, seperti kesadaran diri, pengelolaan diri, keterampilan sosial , dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, di mana semua itu merupakan Kompetensi Sosial dan Emosional yang harus dimiliki murid.

Selain murid, coaching penting pula untuk dilakukan terhadap rekan sejawat. Saya percaya, untuk dapat menuntun murid mengembangkan potensi diri maka guru harus menjaga kestabilan kompetensi sosial dan emosionalnya sendiri terlebih dahulu. Seringkali banyak permasalahan yang guru alami, baik yang berkaitan dengan tugasnya maupun masalah-masalah personal yang dapat mengganggu kinerjanya. Oleh karena itu, sesama guru harus saling mendukung dan menguatkan, di antaranya dengan melakukan coaching kepada rekan yang mengalami permasalahan agar permasalahan tersebut dapat segera teratasi sehingga nantinya guru dapat fokus dalam melakukan tugasnya untuk menuntun peserta didik.

Dalam kaitannya terhadap peran guru sebagai pemimpin pembelajaran, guru yang menguasai keterampilan coaching secara bersamaan telah mengembangkan kompetensinya sebagai pemimpin pembelajaran. Seorang pemimpin pembelajaran harus dapat memberdayakan potensi orang yang dipimpinnya, yakni murid agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Hal ini sesuai dengan prinsip coaching, yakni kemitraan, proses kreatif dan memberdayakan/memaksimalkan potensi. Dengan demikian, proses coaching yang dilakukan guru akan membantu murid mendapatkan hasil belajar yang maksimal.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline