Lihat ke Halaman Asli

Mim Yudiarto

TERVERIFIKASI

buruh proletar

Sebuah Intermeso

Diperbarui: 11 Juli 2019   14:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

pixabay.com

Yaitu saat kau meletakkan tubuh khayalanmu di ujung sepatu
membawanya berlari sejauh nafas habis memburu
hingga tiba di suatu tempat tanpa ratapan
di mana selama ini selalu kau impikan
untuk menitipkan airmata
menjadi kelopak bunga-bunga anggrek yang mekar semaunya

Begitu pula ketika kau mencandai gurauan
tentang jatuh cinta pada kopi sachetan
di sebuah malam yang sangat dingin
dan kau terjebak dalam labirin
yang kehilangan pintu keluar
tertutup pikiran yang berbelukar

Demikian juga waktu kau mencumbui masa lalu
di kamar tidur yang tak berlampu
agar tak ada yang melihatmu menangis
terengah-engah menahan dalamnya goresan peristiwa tragis
atas banyak cerita
yang kau tak mengerti kesudahannya seperti apa

Hujan tiba,
mengetuk jendela yang kau biarkan terbuka
supaya kau bisa mengajaknya masuk
membantumu mengenyahkan pikiran buruk
dari sekian banyak kejadian teruk

Kemarau datang,
membuat gemeretak hati yang cuma ditumbuhi ilalang
membuatmu kembali mengingat sayatan luka
ketika jatuh cinta ternyata hanyalah sebuah intermesso
di antara perjalanan panjang tanpa jeda untuk mengaso

Medan, 11 Juli 2019

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline