Lihat ke Halaman Asli

Mim Yudiarto

TERVERIFIKASI

buruh proletar

Ketika Rindu Berfilosofi

Diperbarui: 4 Maret 2019   08:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

pixabay.com

Aku sedang bertabik, pada rindu yang berlalu di hadapanku, dengan caranya yang gagu, namun sanggup memporak-porandakan susunan batu-batu. Di hatiku.

Seumpama Sun Tzu, rindu akan mengepung pikiran dari segala penjuru. Menempatkan kita sebagai musuh nomor satu. Juga teman bersekutu paling syahdu.

Sebagai musuh, kita akan dibombardir dengan dahsyatnya rusuh. Di puncak rasa gaduh. Sampai kita perlahan-lahan runtuh.

Sebagai sekutu, kita akan dibawanya hingga langit ke tujuh, menyemai awan, memanen hujan, dan kembali ke bumi, dengan musim semi di hati.

Sebagai filosofi, rindu adalah sepi, sekaligus wujud reinkarnasi, dari jiwa yang telah mati, terlahir kembali, dalam mimpi-mimpi yang bernarasi.

Ketika rindu, bersepakat dengan waktu, untuk bersama-sama menjadi filosofi, aku dan kamu adalah bagian dari teka-teki, yang telah dipecahkan, menjadi kesimpulan.

Ketika rindu, menjumpai cintanya, bersama-sama memulung bahagia, aku dan kamu menjadi realita, dari rencana-rencana, yang telah sampai pada kenyataannya.

Bogor, 4 Maret 2019

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline