Lihat ke Halaman Asli

Aku Bodoh, Maka Aku Kuli(Ah)

Diperbarui: 26 Juni 2015   14:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

“ Apakah selama ini kita masih menjadi mahasiswa bodoh yang hanya berpikir tentang bagaimana caranya besok bisa tampil lebih keren dari hari ini, dan hari ini bisa bertemu dengan dia dan berbincang-bincang atau sekadar duduk bersampingan. Dan percaya setiap tugas pasti ada yang mengerjakan (mungkin jin pendamping)? ”

Barangkali semua hampir sepakat bahwa memiliki nilai sempurna adalah sebuah prestasi. Hanya saja mendapatkannya perlu sedikit bersusah payah dan mau repot membolak-balikkan buku referensi yang tebalnya minta ampun. Ditambah pula harus mengerjakan setiap tugas se-perfect mungkin, tanpa cela, dan segalanya mesti terlihat sempurna di mata sang dosen. Nilai, hanyalah sebuah simbol, dalam pengertian bahwa pemaknaan terhadap simbol itu sendiri bersifat multi interpretasi. Ketika seseorang mendapat nilai A, ada banyak kemungkinan kenapa dia mendapat nilai A. Boleh jadi waktu ujian dia tidak telat datang dan sedang tidak sakit, atau secara kebetulan dia berlatih soal-soal yang ternyata keluar waktu ujian. Mungkin juga karena sedang beruntung mendapatkan dosen baik hati (hanya memberi nilai A dan B). Dan tidak menutup kemungkinan dia semalam bermimpi mengerjakan soal, dan ternyata soalnya sama persis dengan yang diujikan. Ya, mungkin. :D MEMAKNAI SEBUAH NILAI Saya percaya nilai sebagai refresentasi kemampuan intelektual seseorang. Namun saya pikir, tidak serta merta semakin tinggi nilai yang didapat, semakin tinggi pula pemahaman dan kedewasaan cara berpikir seseorang. Toh, nilai hanyalah sebuah akumulasi angka. Tak bisa merepresentasikan kualitas individu secara komprehensif. Sederhananya, nilai tidak bisa dijadikan satu-satuya tolok ukur dalam menilai kualitas seseorang. Mestinya, perubahan positif yang terjadi setelah mendapatkan ilmu di kelas lebih bisa dipertanggungjawabkan dibanding dengan deretan angkat yang (bisa saja) tidak objektif. Hmmm…. rasa-rasanya naif sekali ya ketika nilai A, B atau C bahkan D menjadi harga mati untuk barometer keberhasilan seseorang, apalagi ketika nilai tersebut jatuh, sang empunya merasa bahwa itu adalah ancaman dan kehancuran. NILAI VS ILMU : PILIH MANA ? Ketika yang dipilih nilai, maka yang dilakukan selama kuliah adalah bagaimana caranya mendapatkan nilai sempurna. Inilah mengapa ketika nilai menjadi yang dikejar, kita seakan terjebak pada sebuah ‘lingkaran setan’. Asal nilai bagus, copas (copy-paste) pun jadi, asal nilai bagus, nyontek pun tak jadi masalah. Persoalan ini semakin rumit, mengingat kejujuran mahasiswa tidak selalu bisa diandalkan. Terkadang (baca : seringnya) nilai idealisme sebagai insan akademis yang menjungjung tinggi kejujuran dalam berkreatifitas seakan menjadi dagelan belaka dan menjadi nyanyian sumbang yang tak lagi enak di dengar. Ironis, sekaligus miris. Mengejar nilai setinggi langit sah-sah saja, dan memang sangat dianjurkan, namun persoalannya berbeda ketika mendapatkan nilai dengan cara yang tidak fair, sehingga bisa saja yang karyanya hasil contekan, nilainya bisa melebihi karya hasil keringat sendiri. Maka tak heran, jika kreatifitas di negeri ini kurang di apresiasi, dan pembajakan (baca: plagiasi intelektual) semakin menjadi hal yang biasa dan dibudidayakan. Ironis, sekaligus miris. Sebenarnya, trend kuliah mengejar nilai, bisa dipahami dengan berkaca pada kenyataan bahwa banyak lembaga ataupun perusahaan mensyaratkan IPK yang tinggi sebagai sebuah ukuran keberhasilan di bangku kuliah, sehingga kemudian terjadi pergeseran paradigma dari kuliah untuk mencari ilmu menjadi kuliah mencari nilai. (Agak aneh juga kedengarannya ya). Dampaknya bisa ditebak, banyak universitas yang menghasilkan lulusan yang tidak siap menghadapi persaingan, bermental pekerja, gagap dalam mencipta dan berkarya. MENCARI ILMU: SEKALI DAYUNG, DUA TIGA PULAU TERLAMPAUI Mendapatkan nilai bagus itu gampang. Mendapatkan IPK diatas 3.8 itu gampang. Asal ada kemauan dan kesanggupan untuk menjalani tahapan-tahapannya disertai konsistensi. Hanya saja kita tak perlu begitu terpesona dengan nilai yang ‘wah’ yang pada akhirnya menjerat kita pada sebuah ‘lingkaran setan’. Justru yang terpenting adalah ilmu apa yang kita dapat, memaknai apa yang dipelajari serta mengaplikasikannya dalam kehidupan, dengan begitu saja saya kira cukup untuk mendaptkan nilai IPK yang tinggi tanpa ber-vivere pericolose . Saya sepenuhnya percaya bahwa mencintai ilmu, mempelajari ilmu dan mengaplikasikan ilmu untuk kemudian mencipta dan berkarya adalah lebih memuaskan dan jauh lebih terhormat dari sekedar deretan angka-angka, yang masyarakatpun tak akan menanyakan berapa IPK anda ketika kuliah, justru mereka akan menanyakan, kontribusi apa yang sudah anda berikan pada agama, bangsa dan almamater? Sudah siapkah kita untuk menjawab pertanyaan tersebut? Mari kita siapkan jawaban itu semenjak dari sekarang! Wallahau a'lam. Tasikmalaya, Tuesday, August 03, 2010 9:12:52 PM :: Miftah Nashir




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline