Lihat ke Halaman Asli

Merza Gamal

TERVERIFIKASI

Pensiunan Gaul Banyak Acara

PK Ojong dan Jakob Oetama, Duo Legenda Rendah Hati Pendiri Kompas Gramedia

Diperbarui: 20 November 2022   16:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Image: PK Ojong dan Jakob Oetama, Duo Legenda Rendah Hati Pendiri Kompas Gramedia (diolah oleh Merza Gamal)

Saat ini, siapa tidak kenal dengan Kompas Gramedia Group (disingkat KG Group), sebuah raksasa kelompok media yang merambah berbagai bisnis. KG Group adalah perusahaan Indonesia yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1963, berawal dari terbitnya Majalah Intisari. Majalah Intisari diterbitkan oleh duo legenda jurnalis Indonesia, PK Ojong dan Jakob Oetama.

Sebelum menerbitkan Majalah Intisari, PK Ojong merupakan pemimpin redaksi mingguan "Star Weekly", sedangkan Jakob Oetama redaktur mingguan "Penabur". Dua tahun setelah terbitnya majalah Intisari, mereka berdua bersama I.J. Kasimo, Drs. Frans Seda, F.C. Palaunsuka dengan bendera Yayasan Bentara menerbitkan harian Kompas pada tanggal 28 Juni 1965.

Kehadiran Kompas Gramedia tidak terlepas dari sejarah panjang demi mencapai cita-cita mulia dalam rangka mencerdaskan bangsa yang menjadi visi dari duo legenda jurnalis Indonesia. Selain sebagai junalis, kedua tokoh ini merupakan guru yang dibekali dengan Pendidikan sekolah guru. PK Ojong belajar di Sekolah Guru Atas (SGA) pada tahun 1937-1940. Sementara itu, Jakob Oetama belajar di Sekolah Menengah Atas Seminari Yogyakarta pada tahun 1951 dan dilanjutkan di Sekolah Guru Jurusan B-1 Ilmu Sejarah hingga tahun 1956.

PK Ojong dilahirkan di Bukittinggi pada tanggal 25 Juli 1920, dan Jakob Oetama dilahirkan pada tanggal 27 September 1931 di Magelang. Mereka berdua, dari kecil sama-sama suka membaca buku.

Sejak sekolah dasar di Hollandsch Chineesche School (HCS) yang diasuh oleh biarawati-biarawati Franciscanes, PK Ojong dikenal sebagai murid yang pandai dan tidak nakal. Bahkan dirinya dinilai sangat disiplin dan memiliki kemauan yang keras. Kemudian PK Ojong melanjutkan Pendidikan di ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah setingkat SMP) ke Padang. Kemudian Pendidikan PK Ojong berlanjut ke SGA dan  Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1946-1951).

PK Ojong mulai menjadi wartawan sekitar tahun 1946 sebagai penulis lepas di sebuah majalah mingguan bernama Keng Po atau Star Weekly. Pendiri Star Weekly, Khoe Woen Sioe, tertarik melihat sikap disiplin, rajin, teliti, pengetahuan yang luas, dan semangat untuk maju di dalam diri Ojong. Kelebihan-kelebihan tersebut membuat PK Ojong segera menjadikannya sebagai wartawan Kengpo (Star Weekly). Kemudian, karena kiprahnya yang sangat luar biasa dalam jurnalistik,PK Ojong kemudian diangkat menjadi Redaktur Pelaksana Star Weekly.

Pada tahun 1961, Keng Po (Star Weekly) dibredel pada masa pemerintahan Sukarno. Setelah pembredelan itu, PK Ojong mendirikan PT Saka Widya yang bergerak di bidang penerbitan buku dan mulai bekerja sama dengan Jakob Oetama. Mereka kemudian menerbitkan majalah Intisari bersama Irawati dan J. Adisubrata. Intisari berisi bermacam-macam tema terkait ilmu pengetahuan dan sejarah. Dua tahun setelah itu, lahirlah Kompas pada 28 Juni 1965.

Seiring berjalannya waktu, Harian Kompas dan majalah Intisari menjadi media papan atas Indonesia. Bisnis PK Ojong dan Jakob Oetama pun merambah ke bidang percetakan dengan berdirinya Gramedia Printing pada 1972. Percetakan ini menjadi percetakan terbitan mereka sendiri, dan berkembang menjadi penerbit Gramedia yang lahir pada tahun 1974.

Di tengah suksesnya Gramedia, PK Ojong wafat pada 31 Mei 1980, tanpa sakit dan meninggal dengan benda kesayangannya, yaitu buku di sampingnya. Sepeninggal PK Ojong, Jakob Oetama terus mengembangkan Kompas Gramedia menjadi bisnis multi-industri.

Walaupun sukses di berbagai bidang, Jakob Oetama tidak pernah melepas identitas dirinya sebagai seorang wartawan. Jakob Oetama dikenal sebagai sosok sederhana yang selalu mengutamakan kejujuran, integritas, rasa syukur, dan humanisme. Di mata karyawannya dan masyarakat awam yang mengenalnya, Jakob dipandang sebagai seorang sosok yang "nguwongke" dan tidak pernah menonjolkan status atau kedudukannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline