Lihat ke Halaman Asli

Merza Gamal

TERVERIFIKASI

Pensiunan Gaul Banyak Acara

Hikmah Pandemi dan Masjid Baru yang Merekatkan Hubungan Tetangga Satu Cluster

Diperbarui: 16 Oktober 2022   09:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Image: Hikmah Pandemi dan Masjid Baru yang Merekatkan Hubungan Tetangga Satu Cluster (by Merza Gamal)

Hidup di Jadetabek (Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi) kita seperti diburu waktu, dan tidak sempat untuk membina hubungan silahturahim yang baik antar tetangga. Bahkan, banyak di antara penghuni suatu cluster perumahan tidak saling kenal dengan tetangga sebelah-menyebelah.

Memang, alasannya bisa diterima dan masuk akal, yaitu kebanyakan penduduk Jadetabek sudah keluar rumah sebelum matahari bersinar, dan kembali sampai di rumah matahari pun sudah terbenam. Bahkan, tak jarang sebagian karena kesibukannya baru sampai di rumah lewat jam sembilan malam.

Demikian pula pada akhir pekan, karena sudah sibuk dengan aneka kegiatan selama hari kerja, maka waktnya untuk istirahat dan "me time". Pada saat libur, rata-rata pergi berlibur ke luar kota atau ke luar negeri. Bahkan saat hari raya keagamaan, seperti Idul Fitri, malah rumah-rumah di cluster perumahan ditinggalkan oleh penghuninya.

Dengan demikian, jadi wajar, hubungan silahturahim apalagi persaudaraan di cluster perumahan sangat tipis, seperti juga di cluster perumahan Kakek Merza tinggal di kawasan Kota Mandiri Bintaro Jaya yang sebagian wilayahnya masuk dalam Kota Administarif Jakarta Selatan dan sebagian masuk ke dalam Kota Tangerang Selatan.

Namun, tiba-tiba di awal tahun 2020, dunia diributkan oleh virus Covid-19, dan pada bulan Maret menjadi pandemi dan Jakarta serta penyanggahnya Depok, Tangerang, dan Bekasi diberlakukan PSBB (pembatasan sosial berskala besar). Akibatnya, warga cluster tidak bisa kemana-mana. Kemudian PSBB dilanjutkan dengan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat).

Kondisi pembatasan itu, ternyata ada hikmahnya, di mana saat ini hubungan silahturahim dan kekeluargaan antar warga cluster menjadi terjalin dalam ukhuwah yang erat.

Sebelum pamdemi, dalam cluster hanya ada mushalah kecil yang jarang dikunjungi oleh para warga untuk beribadah. Untuk beribadah shalat Jumat bagi yang beragama Islam, biasanya dilakukan di sekitar kantor para warga bekerja. Saat Ramadhan, untuk taraweh dilaksanakan di Masjid Raya Bintaro Jaya, yang jaraknya seikitar 300 meter dari Cluster kami.

Oleh karena semakin banyak cluster yang dibangun di pemukiman Kota Mandiri Bintaro Jaya, maka Masjid Raya yang berkapasitas 3.000 jamaah itu pun sering penuh sesak. Untuk itu, warga pun bersepakat akan meningkatkan mushalah dalam cluster menjadi Masjid. Beberapa cluster memang sudah membangun masjid dengan meningkat sarana mushalah yang ada di atas tanah yang disiapkan pihak pengembang Pembangunan Jaya.

Namun ketika itu, masih ada pemikiran, Masjid yang agak besar untuk menampung warga Muslim yang 50% dari seluruh warga cluster dengan jumlah rumah sekitar 300'an itu hanya akan ramai pada bulan Ramadhan saja mengingat aktivitas sebagian warga sehari-hari memang di luar rumah. Sementara biaya pembangunan yang dibutuhkan untuk membangun masjid yang cukup bagus untuk cluster perumahan tersebut dibutuhkan dana sekitar Rp 5 milyar.

Namun, sebagian berpendapat justru dengan adanya masjid, mungkin banyak kegiatan bersama yang bisa dilakukan warga cluster. Akhirnya, terkumpullah dana yang dihimpun warga cluster, baik dana pribadi atau pun dana donator dari jaringan para warga, sekitar Rp 2,5 milyar. Dengan modal itu direncanakan akan dibangun dulu separuh dari keselurahan rancangan masjid yang dibuat oleh arsitek.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline