Lihat ke Halaman Asli

Andayo Ahdar Notes

menulis, membaca satu paket untuk melihat bangsa

Ingin Menulis, Membaca Dulu

Diperbarui: 7 November 2020   22:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ketika usia masih dalam masa pertumbuhan, aktifitas anak dalam proses pencahariannya adalah meniru. Meniru dengan melihat, mendengar serta melakukan. Aktfitas alami yang terjadi pada setiap manusia. memasuki usia prasekolah, aktifitasnya semakin bertambah seiring dengan informasi yang terserap dari inderanya. Rasa,Cipta dan karsa berkembang. Dorongan untuk lebih banyak tahu merupakan upaya yang menjadi ‘petualangan’ hidup sang anak. Hingga merekapun menginjak usia sekolah. Akitfitas menulis dan membaca menjadi babak baru dalam hidupnya.

Aktifitas baca tulis ibarat ikatan saudara yang sangat erat. Seerat layaknya sekandung. Proses kognitif, psikomotorik berkolaborasi memenuhi relung hati dan pikir anak untuk mendapatkan pengetahuan baru. Maka merekapun belajar dan dilatih untuk baca tulis ditambah lagi hitung.istilah kerennya CALISTUNG. Metodenyapun beragam. Teringat pada masa-masa sekolah dulu, guru-guru kita serta orang tua membimbang anaknya untuk menggunakan pensil untuk menoreh garis dan huruf demi huruf sambil mengenalkan huruf agar kekal dalam ingatan dan hati.

Ingat tulisan, teringat pula kapur. Dimasa itu, sekolah-sekolah di Indonesia menggunakan kapur untuk menulis pada papan tulis. Para guru menerangkan materinya pada Blackboard (papan tulis) namun kini menjelma menjadi Whiteboard yang juga artinya sama papan tulis. Dimasa itu kami sebagai murid diharuskan untuk selalu fokus di depan papan tulis. Fokus untuk melihat guru yang berdiri didepannya dan atau pada tulisan dipapan tulis. Terkadang salah satu dari kami yang memiliki tulisan yang paling indah untuk maju kedepan menulis beberapa bait dari handbook pegangan guru atau bisa kita sebut buku cetak dari materi pelalajaran. Semua murid diharuskan fokus mengikuti tulisan di papan tulis. Kondisi kelas menjadi beragam arti. Ada yang serius, bergurau, tidak focus dan kebanyakan bosan. Metode klasikal pada masanya. Untuk saat ini metode ini, bisa jadi dianggap metode yang ketinggalan zaman karena media pendidikan tidak update lagi serta dianggap menggurui.betulkah seperti itu?.  Hanya mereka yang bersekolah sampai akhir 90an menikmati masa romantisme kapur tulis dan papan tulis hitam.

Metode jadul dan berfokus pada guru sebagai sentral pembelajarannya kini tergugat di era milenial ini. Namun meski demikian proses baca tulis itu selalu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Karena dua proses kerja yang saling bersahutan yaitu membaca tulisan dipapan tulis lalu menuliskannya dibuku tulis. Baca dan tulis.

Masih mengurai kenangan masa sekolah. Pada pelajaran Bahasa Indonesia ada materi khusus yaitu mengarang. Ada topik atau judul serta kerangka karangan. Lalu setelah itu mulailah kami mengarang tulisan. Tentunya tidak semua murid yang enjoy dengan pelajaran ini. Imajinasipun jalan menuju relung-relung peristiwa yang terekam pada memori dan sanubari hingga diksi tertuang dalam karangan pada masa itu.

Rangkaian kata yang dituangkan berpengaruh dari apa yang dialami serta bacaan –bacaan. Itulah sekelumit masa tentang menulis dan membaca pada masa yang begitu indah untuk dikenang. Karena sesungguhnya menulis itu adalah membaca waktu, melukis suasana serta merupa peristiwa dan mengajak kita untuk mengingat kembali ingatan yang tertidur serta mencari tahu berbagai persoalan hidup dan meng -update pengetahuan. Selanjutnya mengolah ide dengan banyak membaca sebagai amunisi untuk diksi yang bisa menjadi penyampai ide kepada pembacanya. 

Pesan yang ingin disampaikan adalah “ Ingin Menulis, Membaca Dulu”.

Makassar, Tidung 3

Nopember/7/2020

10:28 PM




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline