Mentari belum menampakan diri menuju peraduan. Langit perlahan mencicil cahaya warna yang lebih terang. Angin dingin semilir menerpa di saat azan Subuh berkumandang. Aku bergegas menyiapkan barang bawaan pada tas selempang. Sedangkan alat tempurku untuk bekerja telah tergeletak di jok mobil. Suamiku telah menaruhkan tas berisi baju pengantin dan alat rias lengkap di situ. Kali ini karena jarak kediaman serta tempat pengantin tidak begitu jauh. Maka suami memilih untuk tidak ikut.
Bersama kedua asistenku yang keduanya masih gadis single. Sedangkan asisten satu lagi, langsung kuutus mengurus mempelai lelaki. Kami melintasi jalan yang masih sepi. Sesampai di rumah pengantin perempuan, kami disambut dengan kesibukan tuan rumah, kerabat serta panitia. Tenda besar dengan susunan kursi serta pelaminan dengan dekorasi berbagai hiasan sudah rampung.
Aku pun dipersilahkan langsung menuju ke kamar pengantin. Merias pengantin memang harus memakan waktu yang lama. Jadwal yang dikonfirmasi padaku, persiapan akad yang nanti di lakukan pukul 09.00 pagi disambung langsung dengan resepsi.
"Bibi keluar dulu ya, kamu harus kuat," pamit seorang wanita pada calon pengantin perempuan. Sempat terdengar olehku, ketika aku memasuki kamar yang berdekorasi sangat cantik. Ia pun tersenyum ramah ketika berpapasan di pintu kamar.
Langkah dan gerak sigap kami menyiapkan segala sesuatu. Lampu terang putih empat buah mengarah pada paras gadis itu. Akhirnya, terlihat jelas. Memperlihatkan wajah sedih dan sendu. Guratan lara itu tersorot dari kelopak mata yang membengkak. Dapat kutebak pasti siap menangis dalam waktu lama. Desas-desus yang kudengar memang ini pernikahan dijodohkan. Mungkin saja dia terpaksa.
"Kita mulai ya," Senyumku mengembang sebagai pembuka percakapan.
Tangan ini pun mengapai kapas dan pembersih wajah yang diserahkan oleh asistenku.
Gadis itu tak menyahut, reaksi ekpresinya pun tetap sama. Matanya menerawang, seperti menganggapku tak ada. Mesti tangan ini mulai lincah bergerilya pada wajahnya. Menjadi perias pengantin sekaliber make up artis, aku sudah melanglang buana menangani berbagai wajah. Tentunya rupa asli akan berubah seketika menjadi seperti barbie imut nantinya.
Tidak ada percakapan yang terjadi, karena mulut calon mempelai pengatin tetap bungkam. Berbeda sekali dengan biasa yang kuhadapi, di mana calon pengatin banyak yang ceria menghadapi hari istemewanya.
"Pejamkan matanya, sebentar," ucapku, ketika akan membubuhi shadow di kelopak mata. Matanya yang sembab membuat aku harus ektra mengakali agar tak terlihat, menutupinya dengan polesan agak tebal.
Ia menurut, tapi beberapa saat kemudian. Bulir bening menetes dari sudut mata yang terpejam itu. Hei, dia menangis!
Gerakanku terhenti, tangan mengantung . Serta memandang kepada kedua asistenku. Mereka masih sibuk mengurus baju yang akan dikenakan nantinya.