Lihat ke Halaman Asli

Abdul Azis Al Maulana

Mahasiswa UIN Mataram

Modernisasi Kartini dan Kemerdekaan Emansipasi

Diperbarui: 26 April 2022   21:25

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gambar dari Arivle One from Pixabay

Modernisasi Kartini dan Kemerdekaan Emansipasi

Hampir tidak ada masyarakat Indonesia yang tidak tahu sosok perempuan bernama Kartini, namanya disebut pada buku pelajaran dan kerapkali disebut oleh perempuan-perempuan aktivis zaman sekarang. Tentu saja, sebagai perempuan ikonik Kartini adalah lambang perlawanan akan diskriminasi terhadap kesetaraan gender yang telah mengakar sejak penjajahan Belanda silam.

Raden Ajeng Kartini merupakan salah satu perempuan di masa lampau yang menggagas bahwasanya perempuan juga berhak memiliki kesetaraan pendidikan seperti kaum adam. Kecemburuan tersebut acapkali terlahir dari perempuan-perempuan di zaman tersebut yang hanya berkutat dengan dapur, kasur, serta sumur. Menjadi babu dalam rumah, kendati setiap perempuan di bumi berhalusinasi untuk dijadikan ratu.  

Gerakan-gerakan yang disebut emansipasi wanita kemudian mencuat ke permukaan, bersamaan dengan H. Rangakyo Rasuna Said yang juga memperjuangkan adanya persamaan hak antara perempuan dan wanita. Maka perempuan mulai memiliki tempat yang sama dengan kaum lelaki, bisa bersaing dan mendapatkan hak yang sama serta tidak lagi berkutat pada permasalahan ruang tamu.  

Namun Kartini hanyalah masa lalu, kendati semangat-semangatnya menjelma pada tubuh pemudi milenial di zaman sekarang, namun mau tidak mau kita harus menyadari bahwasanya perlawanan tersebut bukanlah masalah yang paling substansial untuk perempuan zaman sekarang. Sebab musuh utama perempuan milenial sekarang adalah permasalahan sosial yang menjangkiti diri mereka sendiri.

Alasan saya mengatakan hal ini sebab perempuan sekarang telah merdeka dan telah memenangkan hak-haknya, hanya saja mereka cenderung gagal dalam melakukan gerakan-gerakan untuk sampai pada hak-hak tersebut. Sebagai perempuan mereka bisa bersuara untuk menuntut hak-hak mereka, namun tanpa aksi yang pasti, bukankah suara lantang itu menjadi sumbang pada akhirnya?

Terlebih tidak semua perempuan memiliki jiwa pemimpin dan cenderung sulit untuk dipilih menjadi pemimpin. Alasannya lagi-lagi sederhana, sebab lelaki juga memiliki ego yang tinggi dan tidak mau dipimpin oleh perempuan, selain itu perempuan memiliki ciri khas kepemimpinan yang terlalu ikut campur pada urusan bawahannya sekaligus menuntut kesempurnaan. Akhirnya, anggota-anggota yang tidak sefrekuensi dengan karakteristik kepemimpinan tersebut hanya bisa gigit jari dan ongkang kaki.

Adanya globalisasi membuat perempuan tidak lagi melawan permasalahan 'emansipasi wanita' yang bersifat regional melainkan permasalahan sosial yang kini bersifat global. Adanya westernisasi pada akhirnya membuat kaum wanita menjadi hedonis dan terlalu berekspektasi tinggi pada kehidupan duniawi. Sehingga tanpa mereka sadari sebenarnya mereka sendirilah yang melepas makna dari emansipasi tersebut. 

Naasnya adanya globalisasi ini juga menjadikan perempuan tidak hanya melakukan perlawanan pada hasrat mereka terhadap hal-hal eksternal, melainkan mereka juga melakukan perlawanan terhadap faktor internal, yaitu diri mereka sendiri.

Berbeda dengan Kartini dan Hajjah Rasuna Said sang pelopor emansipasi sekaligus sebagai pengembang sayap agar perempuan bisa terbang lebih tinggi, perempuan zaman sekarang mengekang diri mereka sendiri dan menjadi budak atas pikirannya sendiri. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline