Lihat ke Halaman Asli

Fathan Muhammad Taufiq

TERVERIFIKASI

PNS yang punya hobi menulis

Tak Malu Bertanya, Akhirnya Bisa

Diperbarui: 18 Oktober 2017   14:05

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gambar 1, Mukhlis, S Pt, M Ec Dev, sosok Widya Iswara yang tak segan dan tidak malu-malu belajar dari siapa saja (Doc. FMT)

Alhamdulillah, tahun 2017 ini adalah 'kesempatan kedua' bagi saya diberi kepercayaan untuk mengampu materi diklat di Balai Diklat Pertanian Aceh, Saree. Sebelumnya, pada tahun 2016 yang lalu, tanpa dinyana, saya mendapat undangan menjadi narasumber dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Angka Kredit Bagi Penyuluh Pertanian Aceh

Meski materi yang saya sampaikan dalam Bimtek tersebut memang sudah jadi 'makanan' saya sehari-hari yaitu terkait dengan teknis menulis karya tulis ilmiah populer atau yang lebih dikenal dengan menulis artikel di media, awalnya saya sempat nerveus juga. Bagaimana tidak, saya yang cuma lulusan SMA, harus menyajikan materi dihadapan para penyuluh pertanian senior dari seluruh wilayah Aceh yang rata-rata bergelar S-1 bahkan S-2.

Namun dilandasi niat untuk berbagi sedikit pengalaman yang saya miliki,  tanpa sedikitpun ada keinginan untuk mengajari atau menggurui para peserta bimtek, akhirnya semuanya bisa berjalan lancar nyaris tanpa kendala berarti. Bahkan yang kemudian terasa ada kepuasan batin, ternyata beberapa peserta bimtek yang berasal dari Aceh Besar, Sabang dan Aceh Timur, kemudian mulai muncul tulisannya di media. Artinya apa yang saya sampaikan dalam bimtek tersebut tidaklah sia-sia.

"Lulus" dari 'tantangan pertama' tahun lalu, rupanya aktifitas saya di Balai Diklat ini kemudian berlanjut pada tahun ini. Bahkan bukan hanya sekali, tapi sampai beberapa kali. Beban yang diberikan pihak Balai Diklat Pertanian Aceh kepada saya pun bertambah. Kalau sebelumnya saya hanya diminta mengampu satu materi, tapi tahun ini saya diberi 'PR' 2 materi sekaligus. 

Agendanya juga berubah, bukan lagi bimtek tapi dalam bentuk Diklat Peningkatan Kompetensi Penyuluh. Selama periode Agustus sampai Oktober 2017 ini saja, sudah 4 kali saya diserahi tugas untuk menjadi fasilitator /pemateri dalam diklat yang diikuti oleh para penyuluh senior dari seluruh kabupaten/kota di Aceh yang lagi-lagi rata-rata penyandang gelar S-1 dan S-2.

Tapi Alhamdulillah, masih dengan niat sama yaitu untuk sekedar berbagi pengalaman menulis, bukan untuk mengajari atau menggurui, 12 jam pelajaran pada setiap angkatan, dapat saya 'lahap' dengan mulus. Bahkan saya mulai merasakan dari satu angkatan ke angakatan lainnya, antusias peserta untuk menyimak materi yang saya sampaikan semakin besar, itu yang membuat saya menjadi lebih termotivasi.

Ada 'penyusup' dalam diklat.

Ada pengalaman yang rada unik ketika saya akhirnya bisa 'tampil' sebagai pemateri pada balai diklat berskala provinsi ini. Ini terjadi pada angkatan kedua pada akhir bulan Agustus 2017 yang lalu. Ketika saya akan masuk kelas untuk menyampaikan materi kedua dengan tema 'Teknik Menulis Karya Ilmiah Populer', di pintu masuk saya 'dihadang' oleh seseorang.  

Seorang pria yang menurutku usianya masih sekitar empat puluh tahunan, agak jauh dari usaiku yang sudah berkepala 5, penampilan sangat  rapi. Kemudian dia memperkenalkan diri sebagai salah seorang Widya Iswara (WI) pada balai diklat ini. Mukhlis, nama 'penghadang' itu, keudian menyatakan keinginannya untuk ikut bergabung menyimak materi yang akan saya sampaikan.

Awalnya agak jengah juga mendapat permintaan itu, apalagi setelah saya tahu bahwa dia penyandang gelar sarjana peternakan dan magister ekonomi pembangunan. Posisinya sebagai Widya Iswara yang biasanya berdiri di depan peserta diklat untuk menyajikan materi, kok tiba-tiba kepingin masuk bersama peserta diklat, tepat ketika saya akan menyampaikan materi. Sempat terfikir juga, jangan-jangan kehadirannya di kelas adalah untuk me'mata-matai' bagaimana cara saya menyampaikan materi. 

Namun 'praduga tak bersalah' itu kemudian sirna setelah saya melihat sorot matanya yang seolah mengatakan bahwa dia benar-benar ingin menyimak materi yang akan saya sampaikan. Apalagi setelah dia menyatakan punya keinginan yang kuat untuk bisa menulis, tapi masih belum percaya diri sepenuhnya untuk 'masuk' ke media. Seperti pegawai fungsional di lingkup kementerian pertanian lainnya, WI pada lingkup balai diklat pertanian juga punya kewajibat membuat karya tulis ilmiah untuk menunjang karirnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline