Lihat ke Halaman Asli

DEPDIKNAS & KPAI, tolong mediasi perselisihan antara Sekolah Tunas Mulia Montessori School dan Orang tua

Diperbarui: 23 Oktober 2015   16:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sebagai lanjutan tulisan saya sebelumnya : http://www.kompasiana.com/marnida/orangtua-dan-guru-mari-duduk-bersama_56225571949773fa171a3ff3

 

Saya tergerak untuk kembali membuat tulisan setelah membaca artikel di kompas : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/10/22/11125541/.Kalau.Begini.Terus.Bisa.Jadi.Kasus.Prita.Mulyasari.Versi.Pendidikan.?utm_campaign=related&utm_medium=bp-kompas&utm_source=news&

 

Tanggapan dan persepsi masyarakat mengenai pemberitaan kasus pemukulan di sekolah Tunas Mulia Montessori School memang berbeda-beda. Tidak sedikit yang menjadi berpandangan negatif terhadap sekolah Tunas Mulia Montessori School. Jangankan orang awam yang kemungkinan hanya mengetahui berita yang kurang detail, para orang tua juga sebelum mendapat klarifikasi dari pihak sekolah kebanyakan menjadi waswas.

 

Berdasarkan informasi yang disampaikan pihak sekolah, pihak Depdiknas dan KPAI sudah lebih awal mengetahui permasalah ini. Bahkan sudah melakukan visit (atau interogasi) ke sekolah. Dan berdasarkan rekomendasi dari KPAI pihak sekolah pun mengadakan pertemuan orangtua untuk mengklarifikasi kasus yang sedang berjalan. Namun entah inisiatif pihak sekolah dan memang kebanyakan orangtua siswa menganjurkan agar sekolah melakukan tuntutan balik demi memperbaiki citra sekolah.

 

Dan kini saat kasus ini mulai menyentuh wilayah hukum, pemberitaan yang menyebar di media semakin memojokkan posisi sekolah Tunas Mulia Montessori School. Ditambah komentar-komentar pada artikel di atas semakin memperlihatkan ketidak mengertian pihak awam mengenai fakta yang terjadi. Saat saya mencoba melempar topik ini ke sebuah group chat, di awal memang hampir 100% tanggapan yang saya dapat adalah citra buruk bagi sekolah. Hingga saya mencoba memaparkan beberapa fakta yang sebenarnya, yang saya tidak temukan di berita-berita media.

 

Jujur. Sebelum saya mengetahui dimana kejadian ini terjadi, saya sudah membaca postingan orang tua A di facebook yang banyak dishare teman-teman facebook. Dan saya masuk di wall orang tua A, membaca beberapa postingan yang lain. Dari postingan tersebut saya mendapat 2 fakta awal yang menurut saya penting : fakta pertama anak A memiliki riwayat kesehatan kelainan saluran kencing, dan baru saja menjalani operasi saluran kencing. Fakta kedua anak A mengikuti kegiatan ekskul taekwondo. Bagi saya sebagai seorang ibu, ini adalah hal yang sedikit ganjil. Bukankah seharusnya jika seseorang habis menjalani tindakan operasi, sebaiknya mengurangi atau menghindari aktivitas fisik bahkan kegiatan fisik dimana banyak terjadi benturan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline