Lihat ke Halaman Asli

Marisa Fitri

Mahasiswa

Cerpen | Di Balik Tirai Waktu

Diperbarui: 17 September 2024   14:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh hamparan sawah hijau dan hutan yang lebat, hiduplah seorang wanita tua bernama Nyai Sari. Selama bertahun-tahun, dia dikenal sebagai penjaga tradisi dan cerita rakyat desa. Rumahnya yang sederhana, dengan dinding dari anyaman bambu dan atap dari daun rumbia, menyimpan banyak rahasia dan kenangan. Namun, di balik tirai waktu yang menutupinya, ada sebuah misteri yang belum pernah dipecahkan.

Suatu sore, saat matahari mulai meredupkan cahayanya, seorang pemuda bernama Raka datang ke rumah Nyai Sari. Raka adalah seorang jurnalis muda yang bekerja untuk sebuah surat kabar di kota besar. Ia datang dengan maksud khusus: mencari cerita tentang masa lalu desa untuk sebuah artikel yang ia tulis. Sesampainya di rumah Nyai Sari, Raka disambut dengan keramahan yang hangat.

"Selamat datang, Nak. Apa yang bisa Nyai bantu?" tanya Nyai Sari dengan senyum ramah.

Raka memperkenalkan dirinya dan menjelaskan tujuan kedatangannya. Nyai Sari mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu berkata, "Baiklah, Nak. Ada banyak cerita di desa ini, tapi ada satu yang paling sering dicari orang: kisah tentang seorang gadis yang hilang di masa lalu."

Raka terkejut. "Gadis yang hilang? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?"

Nyai Sari menghela napas panjang. "Cerita ini telah lama menjadi legenda di sini. Konon, gadis itu adalah putri seorang kepala desa yang sangat cantik dan baik hati. Suatu malam, dia menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, tidak ada yang tahu apa yang terjadi padanya."

Raka mencatat dengan serius. "Apakah ada petunjuk atau rumor tentang di mana dia bisa berada?"

Nyai Sari menggeleng. "Hanya satu benda yang tersisa: sebuah kalung perak yang ditemukan di dekat tempat dia terakhir kali terlihat. Kalung itu sekarang disimpan di rumah duka desa."

Raka memutuskan untuk mengunjungi rumah duka desa. Di sana, dia bertemu dengan seorang pria tua bernama Pak Amir, yang menjaga benda-benda bersejarah desa. Pak Amir mengambil kalung perak dari dalam kotak kayu yang usang dan memberikannya kepada Raka.

Kalung itu sederhana, dengan desain yang elegan dan sebuah liontin kecil berbentuk hati. Raka merasakan ada sesuatu yang aneh tentang kalung itu, sesuatu yang membuat hatinya berdebar lebih cepat.

"Kalung ini adalah barang terakhir yang ditemukan," kata Pak Amir. "Namun, tidak ada yang tahu bagaimana hubungannya dengan gadis yang hilang."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline