Kesalahannya adalah aku mencintaimu tanpa kutanya ada apa denganmu. Semuanya mengalir bagai air. Kebenarannya yaitu aku merindukanmu meski kutahu kau tak sejenak pun memiliki waktu mengenangku!
Tentu aku laki-laki terbodoh yang mau dibodohi! Sebenarnya, ini bukan murni kesalahanmu. Ini kesalahanku, membukakan hati selebar mungkin tanpa melibatkan logika untuk sejenak berpikir.
"Kau tahu, cinta tidak mengajukan pertanyaan. Cinta cukup membuat pernyataan: mencintaimu tanpa batas, harus selaras, dan sampai nafas terkuras," katamu kala itu, saat bulan menjadi saksi kita bergumul dalam kisah asmara yang syahdu.
Aku membisu saat mendengar kalimatmu. Kalimat itu sangat bermakna dalam. Aku tidak ragu, hanya saja mungkin itu terburu-buru.
"Apa aku harus menyakininya?" tanyaku.
"Cinta di hatimu akan meyakinkan," katamu.
Dengan cinta berkekuatan penuh, aku mempercayainya kemudian. Toh, aku bahagia dengannya. Ia selalu ada.
"Apa kamu yakin dengan cintaku?" tanyamu setelahnya.
"Aku yakin," jawabku mantap.
Kamu menghela nafas,"Benarkah yakin?" tanyamu memastikan.
"Ya," kataku.
Kamu pamit setelah mendengar jawabanku. Dan itu hari terakhir aku melihatmu. Seolah bumi menelanmu. Ataukah samudra menenggelamkanmu. Aku tak tahu.
"Ada yang mencarimu," kata ibu membuyarkan lamunanku.
"Siapa, Bu?" tanyaku.
"Sana temuin, nanti juga tahu," jawab ibu.
Aku bergegas ke ruang tamu. Kulihat seorang perempuan muda dengan bayi di gendongannya. Aku memastikan tidak salah lihat. Aku mematung. Pikiranku berkelana.
"Maaf, Pak Dokter, aku mau memeriksa bayiku," kata perempuan itu.
"Ya, silahkan ke ruangan," kataku menunjuk ruang praktikku.
5 Desember 2023
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H