Lihat ke Halaman Asli

Mappa Sikra

One Life, live it

Semalam di Kamar 201

Diperbarui: 14 April 2020   22:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dermaga Pratasaba resor Maratua (dok/pribadi)

BANYAK pilihan untuk menginap di Pulau Maratua. Yang mahal dan yang paling mahal ada.  Juga yang murah dan yang paling murah juga tersedia. Tinggal bagaimana merencanakan perjalanan, apakah berangkat dengan mengatuir sendiri atau dibantu biro perjalanan.

Perjalanan saya ke Maratua sebelum COVID-19. Tidak berfikir akan bermalam dimana. Kalau saja tak dapat tempat, saya bisa menumpang di rumah Pak Marsudi, teman saya yang dipercaya sebagai Camat. Saya butuh jumpa dengan Pak Camat, saya ingin berbincang banyak sekitar penataan ruang di pulau terdepan itu.

Beberapa tahun terakhir terjadi kompetisi membangun resor. Baik yang ada di sepanjang pantai Maratua, maupun yang ada di sisi darat. Semua tahu, Maratua itu unik.  Tanah berbatu, tapi banyak ditumbuhi pepohonan. Bahkan ada jenis pohon yang endemik, hanya ada di pulau itu.

Tak ada pilihan, disaat akan membangun fasilitas wisata, pohon tersebut harus dibersihkan. Inilah yang saya maksudkan, bagaimana peran Pak Camat dalam mengatur ruang tersebut. Jangan sampai banyak tumbuhan yang hilang sia-sia, dikorban untuk membangun rumah dengan berbagai fasilitasnya.

Juga, bagaimana intervensi Pak Camat, agar ada desain bangunan yang mencitrakan kekhasan Maratua. Sehingga, ketika melihgat fasilitas bangunan, orang sudah bisa menebak, bahwa ini foto di salah satu pulau wisata di Berau. Sebetulnya, itu saja yang ingin saya dapatkan dari Pak Camat. Sayangnya, beliau sedang bertugas di luar daerah, saat saya di Maratua.

Saya punya teman, namanya Pak Eeng. Tahu saya berkunjung ke Maratua,  disiapkan kamar untuk bermalam di Pratasaba Resor."Pak Sikra kalau mau menginap seminggu juga tak masalah,"kata Pak Eeng. Kalkulator saya berjalan.  Lumayan juga nilainya bila sepekan. Dengan senang hati, menerima tawaran Pak Eeng.

Pratasaba itu baru dua tahun berdiri. Ada belasan karyawan yang dipekerjakan. Kamarnya juga bila tak salah, ada 30 kamar.  Mulai dari kamar khusus Backpaker, menenagh hingga kamar kelas bintang. Punya pantai yang lumayan panjang, yang menjadi arena tamu yang datang dengan rombongan. Juga ada dermaga panjang, yang menghubungkan tempat menginap dengan rastoran. Kalau mau sarapan, jalan kaki dulu.

Standar layanan itu, hampir sama dengan semua resor yang ada. Yang sedikit beda, bagaimana mengelola lingkungan sekitar resor. Saya sempat melihat semua sudut lokasi menginap. Ada yang berada di tempat terbuka, ada pula yang 'tersembunyi' dibalik rimbunnya pepohonan. Luar biasa konsep yang digagas. Pemiliknya, pasti sangat peduli akan lingkungan.

Mungkin kondisi ini, yang mengundang wisatawan untuk mengeksplor habis-habisan. Mungkin mereka adalah kelompok Youtuber. Semua sudut dibuat ceritera menarik. Wisatawannyapun cantik-cantik asal Jerman. Andai saya pemilik resor, tentu senang sekali.  Dengan begitu, tak susah payah lagi untuk promosi. Tamu yang menginap itulah sekalian menjadi prmotornya.

Ada beberapa unit bangunan kayu dibalik hutan Maratua. Pak Eeng menjelaskan semua tegakan yang ada."kita memang punya konsep untuk mempertahankan hutan yang ada,"kata Pak Eeng. Bahkan, ia mencoba untuk menanam jenis tanaman langka.'kami menanam pohon ulin, ternyata tumbuh subur,"kata Pak Eeng.

Saat saya di Maratua, cuaca memang sedang buruk. Angin kencang terasa hingga menimbulkan bunyi yang aneh. Saya ditempatkan di kamar 201.  Lantai dua, menghadap kelaut. Terasa betul, disaat angin bertiup.  Juga terlihat bagaimana ombak menggulung dan pecah dibibir pantai. Juga samar-samar, terlihat Pulau Kakaban.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline