Buku dongeng Pangeran Sudhana dan 16 kisah lainnya lahir ketika hujan jatuh di musimnya.
Sempat terpikir untuk membuat ilustrasi dengan animasi, seperti buku dongeng pada umumnya. Tetapi saya berpikir, ada baiknya melibatkan anak-anak dalam proses pembuatan buku, dengan meminta mereka membuat ilustrasinya.
Lebih-lebih jika yang menggambar anak-anak dari belahan dunia lain. Mengapa begitu? Karena saya ingin menanamkan indahnya berbagi tanpa melihat suku bangsa dan bahasa.
Apakah itu sulit? Bukankah anak-anak berbeda bahasa itu harus mengerti bahasa Indonesia agar bisa menggambar sesuai imajinasi mereka?
Ya lumayan sulit, tetapi sangat menyenangkan.
Naning Scheid, seorang dosen sekaligus penerjemah karya sastra dari Belgia, contohnya. Novelis sekaligus pemuisi ini, membaca terlebih dahulu semua naskah yang saya kirim, lalu membuat terjemahannya dalam bahasa Belgia, membacakan cerita itu pada anak-anak, barulah gambar ilustrasi dibuat.
Hal serupa juga dilakukan Mbak Lina, yang bermukim di Jerman dan seorang teman dari Australia.
Lantas, bagaimana dengan anak-anak Indonesia?
Mereka bertugas membuat ilustrasi gambar sampul dan gambar-gambar lainnya.
Buku dongeng pada akhirnya terbit dan dibagikan secara gratis kepada anak-anak (diutamakan) yang difabel dan yatim berkat donasi para sahabat.
So, segenap cintaku untuk Nita Arumastuti, Akbar, Shandyarta, Alvin