Wandi bersembunyi di balik rumpun bunga kemuning. Aroma yang pekat menyeruak membuatnya merinding. Ia menguatkan hati. Dirinya akan menangkap pencuri. Beberapa hari ini ayam-ayamnya terus saja berkurang. Anehnya tak ada tanda-tanda musang atau karnivora yang memangsa.
Malam semakin larut. Wandi merapatkan jaket dan mencengkeram pentungan kayu di tangan. Tampak sesosok bayangan mengendap-endap dari samping kandang.
Secepat kilat Wandi melompat menyergap. Dipukulinya sosok bersarung itu berkali-kali.
"Ampun, Pak! Ampun, Pak!" teriak Sang Pencuri.
Wandi terperanjat. "Dodi?" sergahnya tak percaya. Ditariknya penutup wajah pencuri itu. Tak salah lagi, dia Dodi putra bungsunya.
"Kenapa kamu mencuri?"
"Untuk bayar game onlen, Pak," ujar Dodi pasrah.
Kotabaru, 08 Februari 2023
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H