Lihat ke Halaman Asli

Badrul Munir

Seorang yang suka dengan Musik, film dan seni serta kebudayaan kearifan loka.

Ekonomi Berkebudayaan

Diperbarui: 9 Juli 2024   07:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Bicara masalah ekonomi, sampai kapanpun sulit menemukan ujung batasnya, karena ekonomi bisa disebut sebuah ekosistem kebutuhan hidup manusia sampai manusia itu sendiri mengembuskan nafas terakhirnya, dalam artian, ekonomi tidak akan dibicarakan lagi. Tapi, untuk para keluarga yang ditinggalkannya, tetap saja ekonomi jadi perbincangan serius, bahkan menjadi ajang transaksi bisnis dan jasa atau menjadi masalah runcing karena perebutan harta warisan.

Ekonomi dapat dijadikan sebuah tema hidup, pun menjadi salah satu cabang ilmu yang mempunyai fakultasnya sendiri di Universitas-Universitas di seluruh dunia. Saking pentingnya 'Si Ekonomi'. Lulusannya mungkin jutaan, tapi alih-alih perekonomian itu maju dan terus berkembang, yang ada justru sering sekali terjadi penurunan, yang seksi dipanggil 'Resesi'.

Nah ... Pada sabtu malam, 4 Mei 2024 di sebuah komunitas yang baru saja lahir, digagaslah sebuah diskusi dengan tema yang wow amazing sangat mendunia levelnya, meskipun level sesungguhnya baru tingkat kecamatan. Tetapi itu tidak menyurutkan para pelaku ekonomi yang berada di naungan ASPEEK yang tidak melek masalah resesi global.

Sebenarnya ekonomi itu kerennya sih adalah ilmu sosial yang mempelajari perilaku manusia dalam mengelola sumber daya yang terbatas dan menyalurkannya ke dalam berbagai individu atau kelompok yang ada dalam suatu masyarakat. Jadi, siapapun yang bisa mengelola sumber daya, produk maupun jasa, mereka secara otomatis disebut pelaku ekomoni.

Dikarenakan pelaku ekonomi beraneka ragam latar belakang dan tingkat pendidikannya, maka diskusi masalah ekonomi sangat penting digagas, agar bisa berbagi pengalaman dan keilmuan sesama pelaku, dengan tujuan bisa berkembang serta maju bersama. Itulah idealnya! Meskipun pada kenyataannya ... Persaingan dan perebutan kesempatan, terkadang banyak terjadi di dalam pelaku ekomoni itu sendiri. Sudah menjadi rahasia umum.

Diskusi diawali paparan oleh ketua Aspeek, dengan sekelumit penjelasan tentang dampak global resesi dunia terhadap pelaku ekonomi di Kabupaten Lebak, dan juga bagaimana secara umum mensiasati penanganannya. Tak lupa juga menjelaskan tujuan Aspeek didirikan, kata beliau, Aspeek dibentuk untuk memenuhi rekan-rekan pelaku ekonomi yang antusias berorganisasi dan para anggotanya yang minimal sudah mempunyai izin usaha, agar dapat terlihat keseriusannya dalam berusaha.

Banita Farish, selaku ketua Aspeek mengatakan bahwa dampak resesi menyebabkan pertumbuhan ekonomi menurun, bahkan jungkir balik, sehingga Perusahaan atau pelaku ekomoni melakukan penurunan biaya produksi sampai pengurangan tenaga kerja dan itu terjadi di wilayah Kabupaten Lebak, meskipun ada yang bisa bertahan bahkan semakin maju, begitu juga ada yang gulung tikar. Dan pastinya dampak penurunan omzet sangat terasa sekali bagi pengusaha secara umum, dan bagaimana caranya pada diskusi ini dapat menjadi salah satu solusi agar para pelaku usaha dapat bertahan.

Resesi ekonomi secara global memanglah dilihat dari kacamata pelaku ekonomi menengah ke bawah, tidaklah menarik, karena tingkatnya ketinggian, tapi jika pelaku ekonomi tersebut menganalisa masalah perkembangan perekonomian secara global, maka pelaku ekonomi itu akan naik tingkat. Dan seandainya pelaku ekonomi menengah ke bawah yang bisa bertahan di Lebak, biasanya bisa bertahan di luar daerah Lebak, atau bisa disebut mampu bersaing di tingkat nasional, karena para konsumen di Kabupaten Lebak cenderung ingin membeli barang murah tapi dengan kualitas bagus dan banyak kuantitasnya. Maka, para pelaku ekonomi dibuat berpikir dengan caranya masing-masing untuk bertahan di Lebak, itu kata ketua Leekraf yang di mana ia juga sebagai pelaku ekonomi yang berusaha di bidang gula aren.

Ketua Leekraf juga menyinggung bagaimana budaya kopi bisa menjamur dan berkembang bahkan bisa bertahan di situasi apapun, karena sudah menjadi budaya. Dari nongkrong dan berbincang ringan dari kafe-kafe sampai warung kopi di kaki lima. Jadi, budaya itu bisa dikatakan, sangat penting dalam menunjang perkembangan perekonomian di wilayah tertentu, karena berkaitan erat juga dengan etos kerja. Kalau saja budaya di satu daerah lemah, maka etos kerjanya pun bisa dipastikan lemah pula.

Bicara budaya, memang tidak bisa dipisahkan dengan masyarakat dan ekosistem perekonomian yang beredar di wilayahnya, karena  kebudayaan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan cipta, rasa, karsa, dan hasil karya masyarakat. Maka, namanya hasil karya, pelaku kebudayaan adalah pelaku perekonomian juga, tidak bisa dipisahkan, bahkan kebudayaan suatu daerah, bisa sangat menunjang perkembangan dan kemajuan perekonomian itu sendiri.

Seyogianya, pelaku ekonomi memiliki kebanggaan dengan perekonomian berbasis kebudayaan, karena kebudayaan mempunyai tujuan menjadikan masyarakat Indonesia pada umumnya berkepribadian dalam kebudayaan, berdikari secara ekonomi, dan berdaulat secara politik, menurut Ketua Dewan Kebudayaan Lebak pada saat diberikan kesempatan memaparkan gagasannya dalam diskusi pada malam itu yang bertempat di Farish Furniture.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline