Lihat ke Halaman Asli

Mas Yunus

TERVERIFIKASI

Beyond Blogger. Penulis ihwal pengembangan ekonomi masyarakat, wisata, edukasi, dan bisnis.

Saatnya Lautku Bebas Sampah

Diperbarui: 6 Desember 2017   15:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pantai Paseban, Kabupaten Jember, Jatim/Dokumentasi Pribadi

Mengejutkan. Isu masalah sampah kini memasuki episode baru. Sampah plastik di laut telah menjadi isu global. Riset Jenna R. Jambeck dan kawan-kawan menyebutkan, Indonesia termasuk negara "pembuang" plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam dan Sri Lanka (Kompas.com, 10/12/2015).

Menolak lupa. Dua belas tahun lalu, Indonesia mengalami tragedi sampah di TPA Leuwi Gajah (21/02/2005). Ratusan orang meninggal dunia dan puluhan rumah lenyap. Milyaran rupiah disalurkan untuk pembebasan rumah dan lahan di sekitar lokasi kejadian. Tragedi kemanusiaan itu diperingati setiap 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Sampah plastik di darat sejauh 50 km ke garis pantai, berpotensi masuk ke laut jika salah urus (mismanaged plastic waste). Karena itu, masyarakat diminta tidak membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik di laut. Sampah di laut akan merusak ekosistem ikan, terumbu karang, dan biota laut serta menciptakan rantai racun yang membahayakan manusia. Laut itu bukan "bak sampah raksasa mengapung". Saatnya Lautku Bebas Sampah.

Info grafis potensi sampah masuk ke laut/Sumber: jambeck.engr.uga.edu/wp-content/uploads/2015/01/infographic7-small.jpg

Masalah Sampah di Laut Jadi Sorotan Dunia

Media ini melaporkan, sebanyak 30 kantong plastik dan sampah plastik lainnya ditemukan dalam perut ikan paus berparuh cuvier di perairan Norwegia (CNN Indonesia, 24/02/2017). Baru-baru ini, tumpukan sampah plastik juga ditemukan mengapung di laut Karibia (Kompas.com, 26/10/017). Ratusan negara yang berbatasan dengan laut dan garis pantai seperti Indonesia, dihadapkan pada masalah ini.

Tak bisa dipungkiri, manusia adalah makhluk penghasil sampah yang sempurna. Tiap hari, manusia memproduksi sampah. Bayangkan, jika tiap orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun sebagaimana hasil riset Greeneration yang dikutip media ini, berapa banyak kantong plastik yang dihasilkan oleh sekitar 250 juta penduduk Indonesia?

Ironisnya, sebelum sampah plastik itu mendapat perlakuan Reduce, Reuse,dan Recycle (3R) di darat, benda-benda itu berpotensi masuk ke laut. Akibatnya, sampah plastik seperti bekas botol minuman, kantong plastik, bekas bungkus makanan, dan sampah plastik lainnya akan menjadi masalah krusial di laut.

Hasil riset mengindikasikan, sampah plastik di laut tidak mudah terurai di bawah suhu 50 derajat celsius. Saat berada di dalam laut, benda itu butuh panas matahari dan oksigen agar mudah terurai. Karena itu, sampah plastik yang melayang-layang di dalam lautan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk bisa terurai bila dibandingkan dengan sampah plastik di darat.

Indonesia patut menjadikan masalah sampah di laut sebagai masalah serius yang harus segera diatasi. Wisatawan tentu tak nyaman saat mengunjungi wisata bahari Indonesia, sementara dirinya mendapati lautnya kotor tercemar sampah plastik.

Destinasi wisata Bali yang populer di mata dunia pun, tak luput dari sorotan media asing karena pernah mengalami masalah yang sama. Sampah plastik di laut membutuhkan penanganan terpadu sejak dari gunung hingga ke laut.

Kegiatan gotong royong bersih-bersih pantai wisata, pemberian penghargaan terhadap tokoh komunitas atau aktivis peduli sampah, pameran industri kreatif daur ulang sampah, dan atau acara semacam Less Waste Event yang diinisiasi oleh pemerintah Indonesia, perlu terus mendapat dukungan masyarakat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline