Lihat ke Halaman Asli

M. Khaliq Shalha

Pegiat literasi bersama anak didik

Problema Filosofis Dalam Pendidikan Modern

Diperbarui: 17 Juni 2015   16:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

A.PENDAHULUAN

Dalam kajian dunia Barat, kemunculan teori-teori pendidikan menurut perspektif historis tak bisa dilepaskan dari konteks peradaban Barat itu sendiri. Banyak literatur yang mengungkapkan tentang hal itu. Secara konvensional, sejarah peradaban Barat dibagi dalam periode: klasik dari Yunani kuno hingga abad ke-5, zaman tengah dari abad ke-6 hingga munculnya periode ketiga, yaitu zaman Renaissance abad ke-15-17 dan abad pencerahan, Aufklarung abad 18 yang merupakan awal dari abad modern hingga saat ini. Dua peristiwa politik yakni keruntuhan Romawi Barat (476 M) dan keruntuhan Romawi Timur (1553 M) dianggap sebagai tonggak pemisah antara zaman klasik dengan zaman tengah dan zaman modern.[1]

Periode pertengahan sering disebut masa kegelapan (the dark ages) karena hampir tidak muncul prestasi besar yang pantas dibanggakan. Secara filosifis, bila pada zaman klasik aspek akal (reason) sama kedudukannya dengan iman, pada pada abad pertengahan aspek iman mendominasi akal. Dimensi ketuhanan (teosentris) menjadi acuan utama dalam hampir segala lini kehidupan. Sedangkan pada era modern, sebaliknya, akal yang mendominasi iman (antroposentris).

Di sisi lain pada abad kegelapan ini, Spanyol sebagai pusat peradaban Islam mengalami kemajuan yang luar biasa dengan pendidikan yang sangat maju dengan dilengkapi perpustakaan yang besar dan lengkap. Kota-kota Cordova, Sevilla Granada, dan Toledo merupakan pusat-pusat pendidikan pada waktu itu. Dengan kemajuan yang luar biasa tersebut menarik para pendeta dan para ilmuan Barat untuk datang minimba ilmu. Lambat laun Barat mulai panin ilmuwan sehingga sampai munculnya gerakan Renaissance (1450-1600).[2] Eropa Tengah pada zaman Renaissance sangat antusias menerima terhadap filsafat dan metode ilmiah sebagaimana dianut oleh Ibn Rush.[3]

Pada masa Renaissance manusia ingin bebas dari ikatan abad pertengahan dan berusaha mencari pedoman baru dalam kebebasan individu. Cita-cita menjadi pendeta diganti dengan cita-cita individu yang diarahkan pada masa jayanya Republik Romawi dan Yunani. Cita-cita inilah yang mendorong untuk mempelajari beberapa macam ilmu pengetahuan. Keinginan untuk kembali ke sejarah masa lalu dan ilmu-ilmu mulai menggeliat. Meraka berasumsi bahwa apa saja yang perlu dibuat pegangan hidup sudah digagas oleh orang-orang Yunani dan Romawi. Mereka sudah tidak lagi membutuhkan kitab Injil tapi cukup berpegangan pada buku-buku klasik. Gerakan untuk menghasilkan teori pendidikan modern juga sudah mulai dilakukan.

Tulisan ini akan mendeskripsikan tentang kedudukan filsafat dalam penyelenggaraan pendidikan, pertarungan antar filsafat pendidikan di zaman modern, dominasi filsafat Barat di dunia pendidikan modern, dan dampak negatif serta alternatif jalan keluarnya.

B.KEDUDUKAN FILSAFAT DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

1.Arti Filsafat

Filsafat menurut pendekatan etimologis berakar dari bahasa Yunani ‘phillein’ yang berarti cinta dan ‘sophia’ yang berarti kebijaksanaan. Jadi filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Arti filsafat secara terminologi ini mempunyai latar belakang yang muncul dari pemikiran Socrates, beberapa abad sebelum Masehi. Socrates berkata bahwa manusia tidak berhak atas kebijaksanaan, karena keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Terhadap kebijaksanaan manusia hanya berhak untuk mencintainya. Pendirian Socrates tersebut sekaligus menunjukkan sikap kritiknya terhadap kaum Sophis yang mengaku memiliki kebijaksanaan.[4]

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline