Tradisi Barikan dapat diartikan sebagai adat istiadat yang dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk syukur, upaya untuk menolak bala atau bencana dan sedekah bumi. Barikan ini dilakukan sebelum hari kasada, setelah hari karo. Masyarakat melakukan tradisi Barikan dengan membawa nasi, sayur-sayuran, telur, jajanan, memberikan uang seikhlasnya atau sesari menggunakan rantang bersusun dari rumah masing-masing ke punden.
Masyarakat yang telah sampai di punden membuka rantang tersebut kemudian dipercikan tirta atau percikan air lalu romo pandita atau dukun mengucapkan doa... Sampun atau sudah selesai dan masyarakat menjawab "nggh atau iyaa". Kemudian ditamping atau ditaruh di atas daun pisang yang berisi nasi, sayur-sayuran, telur dan jajanan, dan memberikan uang seikhlasnya atau sesari. Sedangkan sesajen berasal dari romo pandita atau dukun. lalu di taruh di area-area seperti jalan umum, pintu rumah, dapur, kamar mandi. Setelah itu dilakukan kenduri atau makan bersama hingga rangkaian acara Barikan itu selesai.
Tidak hanya itu, informasi penting dari tradisi Barikan ini yaitu tidak bole dilakukan di pasaran Jawa "pahing", 5 tahun sekali. Pada acara Barikan masyarakat wajib membawa makanan lalu dibawa ke punden dan dapat dilakukan oleh semua agama. Manfaat dari tradisi Barikan ini selain dapat lebih dekat dengan masyarakat sekitar, juga lebih dekat dengan pemimpin desa.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H