Lihat ke Halaman Asli

Lukita perwita sari

MAHASISWI PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAl UNIVERSITAS POTENSI UTAMA

Peluang Bisnis: Merchandise Para K-Popers di Tengah Fenomena Korean Wave

Diperbarui: 20 Juni 2021   08:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi: Belanja fankit Kpop di Korea Selatan. (Dok. Korea Tourism Organization via kompas.com)

Saat ini fenomena Korean Wave sudah menjamur diberbagai kalangan masyarakat Indonesia, terutama para remaja.

Produknya pun beragam, mulai dari Boy/Girl Band, Drama Korea, Fashion, Skincare, dan merambat sampai ke hal hal kecil seperti pernak pernik atau yang biasa disebut merchandise. 

Istilah merchandise pasti tidak asing lagi dikalangan para Kpopers baik itu musik, film ataupun aktor dan aktrisnya.

Merchandise sendiri merupakan pernak-pernik yang sering kita jumpai dan dipakai oleh banyak orang diberbagai kesempatan. 

Contohnya adalah pada kaos polos dengan sablon atau bordir yang ada gambar dan logo tertentu, atau bisa juga pada payung, jam dinding, flashdisk, pulpen, buku, cangkir, aksesoris dan banyak lagi hal lainnya.

Nah biasanya para penggemar fanatik selalu ingin mengoleksi benda benda yang berkaitan dengan idolanya, hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para perusahaan Korea Selatan untuk memproduksi pernak pernik yang berhubungan dengan para idol tadi.

Sejujujurnya tidak sulit mecari konsumen jika kita berniat menjual Merchandise, pasalnya banyak sekali orang orang disekeliling kita yang pasti adalah seorang penggemar Korea. Bahkan teman teman sendiri pun kebanyakan para Kpopers.

Sebagai seorang Kpopers saya melihat hal ini sebagai peluang usaha yang akan membawa keuntungan. Selain bisa menyalurkan hobi kita juga bisa menghasilkan uang. 

Namun, hal ini juga memunculkan stigma di masyarakat yang mengatakan bahwa barang barang merchandise cenderung mahal, sebenarnya hal ini tergantung dari seberapa bagus atau tidaknya kualitas barang yang dipasarkan tersebut.

Kebanyakan para pedangang Merchandise menggunakan sistem PO (Pre-Order) yang mana barang harus dipesan dahulu dari luar negeri dan prosesnya biasanya bisa sampai 1 atau 2 minggu, tergolong lama memang.

Ongkos kirim yang tergolong mahal merupakan salah satu hambatan yang juga biasanya dihadapi oleh para penjual Merchandise, semakin jauh jaraknya maka semakin mahal harga ongkos kirimnya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline