Oleh: Julianda BM
Debat capres kelima, bak panggung megah yang menampilkan visi dan misi para calon pemimpin bangsa. Di tengah gegap gempita adu gagasan dan janji politik, sebuah kegelisahan mengusik. Jejak budaya, nyaris tak terlihat dalam peta jalan Indonesia yang mereka lukiskan.
Tiga kandidat, dengan latar belakang dan ideologi berbeda, seakan sepakat untuk menepikan budaya. Ekonomi, politik, dan hukum menjadi primadona, menggeser peran budaya sebagai fondasi identitas dan jati diri bangsa.
Ironi ini bagaikan tamparan keras bagi realitas. Di tengah gemerlap modernisasi, budaya Indonesia terancam terpinggirkan. Warisan leluhur yang diwariskan turun temurun, perlahan terkikis oleh arus globalisasi dan keseragaman.
Pertanyaannya menggema, mengapa budaya terlupakan? Jawabannya kompleks, terjalin erat dengan benang merah sejarah dan politik. Sejak era kolonialisme, budaya kita dibonsai, dipaksa tunduk pada nilai-nilai asing. Kemerdekaan menjanjikan kebangkitan, namun terjebak dalam pusaran pragmatisme dan materialisme.
Budaya, di mata sebagian pemimpin, dianggap sebagai sektor non-esensial. Anggaran minim, infrastruktur minim, perhatian minim. Ironisnya, budaya digembar-gemborkan sebagai aset bangsa, namun diperlakukan bak anak tiri.
Akibatnya, budaya terjebak dalam lingkaran setan. Kurangnya dukungan menghambat pengembangannya, minimnya edukasi menumbuhkan apatisme masyarakat. Budaya pun terasing di tanah kelahirannya sendiri.
Namun, di balik kepiluan ini, secercah harapan bersinar. Di tengah masyarakat, muncul gerakan-gerakan kecil yang berjuang melestarikan budaya. Seniman, budayawan, komunitas, dan individu-individu yang teguh menjaga warisan leluhur.
Kisah mereka bagaikan oase di tengah padang pasir. Ada maestro tari yang mendedikasikan hidupnya untuk melatih anak-anak muda. Ada komunitas seni yang berjuang menghidupkan kembali tradisi yang terlupakan. Ada seniman kontemporer yang memadukan budaya tradisional dengan sentuhan modern.
Semangat mereka tak ubahnya nyala lilin di tengah kegelapan. Menjadi pengingat bahwa budaya Indonesia masih hidup, meski terpinggirkan. Menjadi bukti bahwa masih ada yang peduli, meski suara mereka teredam.