Lihat ke Halaman Asli

Retno Septyorini

Suka makan, sering jalan ^^

Petani Naik Kelas

Diperbarui: 22 Mei 2019   23:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Salah Satu Area Persawahan di Jogja (Dokumentasi Pribadi)

Penting, tapi jarang diminati. Inilah gambaran profesi petani saat ini. Bahkan mungkin ungkapan seperti "Belajar yang giat ya le, nduk, biar besok hidupnya enak, tidak jadi petani seperti bapak" bukan menjadi hal yang asing lagi. Jadi jangan heran jika kawan-kawan jarang melihat petani berusia muda saat jalan-jalan ke kawasan pedesaan yang dihiasi lahan pertanian. Salah satunya ya di area persawahan di samping rumah saya.

Terlahir sebagai cucu petani yang kebetulan bermukim di desa membuat saya tidak asing lagi melihat fenomena di atas. Mulai dari tebar benih hingga panen padi, semuanya dilakukan oleh mereka yang telah berumur.

Dulu, sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar saya kerap diajak kakek untuk panen, utamanya kalau area sawah sedang ditanami komoditi pangan selain padi seperti kacang panjang ataupun kacang kedelai.

Dulu sawah kakek memang memberlakukan rotasi tanam di sawah miliknya. Kadang ditanami padi, kadang tebu, kadang kacang-kacangan bahkan pernah disewa pula untuk menanam melon. Berbeda dengan sekarang yang dari waktu ke waktu selalu ditanami padi.

Mengenal Petani Naik Kelas

Ibu Surati, Petani Teh dari Kulonprogo (Dokumentasi Pribadi)

Di tengah gegap gempita revolusi industry 4.0, kabar baik juga menghampiri para petani. Hal ini saya ketahui dari beberapa pameran yang saya ikuti tiga bulan terakhir. Salah satunya yang saya lihat di rangkaian pameran produk UKM yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UKM DIY sejak Februari hingga April tahun ini.

Dalam helatan EXPO UKM Istimewa 2019 misalnya. Saya bertemu dengan Ibu Surati. Pemilik artisan tea berlabel Teh Samigiri. Produk lokal khas Kulonprogo yang dikemas dengan cukup baik.

"Monggo dicicipi tehnya, Mbak. Ini teh premium asli Kulon Progo", ujarnya sembari tersenyum.

Teh Samigiri dari Kulonprogo (Dokumentasi Pribadi)

Sebagai penikmat teh, saya langsung tertarik dengan kata-kata "teh premium" yang dilontarkan ibu paruh baya tersebut. Maklum, selama ini saya baru dalam taraf membaca ulasan traveler yang pernah mencicipi teh khas Kulonprogo. Dengar-dengar teh premium dari kabupaten yang terletak di sisi timur Kota Jogja ini rasanya tidak kalah enak dengan teh premium dari berbagai daerah lain di Indonesia.

"Ini teh dari kebun saya sendiri, Mbak", cerita Bu Surati dengan penuh semangat. Salah satu petani teh dari Samigaluh yang berhasil melebarkan sayapnya menjadi produsen teh premium di Kulonprogo.

"Setelah mendapat penyuluhan dari berbagai pihak, saya memberanikan diri untuk mengusung brand sendiri bernama Samigiri. Saya membuat dua jenis teh yakni spesial tea dan teh racikan biasa atau orang sering menyebutnya dengan nama teh angkringan alias teh tubruk".

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline