Lihat ke Halaman Asli

Lina yana

Astiani

Siswa Tidak Peduli Seberapa Besar Gurunya "Tahu", Tapi Mereka Tahu Seberapa Besar Gurunya "Peduli"

Diperbarui: 2 Juni 2019   17:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

Guru dan siswa, mereka tidak bisa terpisahkan.  Dalam pembelajaran tentunya harus ada Guru dan jiga ada siswa.  Apalah arti siswa jika ia tidak memiliki Guru.  Begitu pula sebaliknya,  Guru tidak akan beradti tanpa adanya siswa.  Jika tidak ada siswa,  kepada siapa ilmu nya akan dibagi? 

Bagi saya,  menjadi seorang guru adalah tugas yang mulia. Mendidik anak orang lain,  mengajarkan segala ilmu yang dimiliki,  saling berbagi bersama mereka.  Percayalah,  itu semua sangat menyenangkan. Dari awal menjadi guru,  bahkan saat masih praktek di bangku kuliah,  saya selalu ingin menciptakan tidak ada jarak antara guru dan murid. 

Mungkin karena sata masih belum menikah,  saya masih banyak mempunyai waktu bersama murid-murid saya.  Tidak hanya disekolah,  mereka sering bermain kerumah saya dan kadang juga belajar bersama dirumah. Saya sangat senang bisa menjadi bagian dari mereka.  Apalagi ilmu yang saya berikan bisa cepat diterima oleh pikiran-pikiran mereka. 

Dokpri

Menjadi guru sampai saat ini mengajarkan,  bahwa siswa tidak peduli seberapa saya tahu,  tapi mereka sangat tau kepedulian saya terhadap mereka.  Kadang mereka sering bercerita,  hal-hal disekolah,  teman yang menyebalkan,  pacar yang sedang marah bahkan masalah dirumah kadang mereka juga cerita.  Hala ini di karenakan percaya pada gurunya ini. 

Merupakan suatu tantangan tersendiri,  untuk menciptakan metode pembelajaran yang asyik.  Mulai dari penyajian materi hingga menyisipkan game agar materi lebih mudah diterima.  Membuat kelas seru dan anak-anak bergembira juga lumayan susah,  tapi jika berhasil ini sangat menyenangkan

Dokpri

Tapi ternyata membuat mereka akrab dengan guru kadang menjadikan sikap mereka yang menganggap guru seperti temannya.  Kadang spam chat kalau chat nya tidak di balas.  Tidak mau membuat tugas, terlalu santai dan kadang bercanda lewat batas. 

Kembali lagi,  mereka hanya anak-anak kecil yang ketika terlalu akrab cuma menganggap gurunya sebagai temannya.  Di mata mereka guru yang mengajar lebih dari sekedar guru yang menjaleskan materi,  memberikan ulangan dan remidi jika nilai jelek.  Tapi saya disini menemukan mereka yang menganggap saya seperti temannya sendiri,  atau kakanya sendiri, jadi ketika belajar mereka tidak akan tertekan,  jika memang tidaka mengerti pasti akan bertanya. 

Dokpri

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline