Lihat ke Halaman Asli

Malam yang Dingin

Diperbarui: 11 Januari 2024   19:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Malam yang dingin

Mentari di ufuk barat perlahan pamit dari cakrawala
Menitipkan lagit yang begitu indah
Dengan menampakan warna jingga yang cantik

Dan kini langit itu perlahan berubah warna menjadi gelap dan tak kalah canti ketika ribuan bintang menghiasinya dengan indah

Di sidut kota ini aku duduk terdiam membeku
Saat dinginnya angin malam memeluk manja nan mesra tubuhku yang cungkring

Secangkir kopi hitam pekat menghangatkan ragaku yang kaku membeku di tengah dinginnya hembusan angin malam penuh romantis

Dingin kian mencekam, Angin makin genit mencubit kulit tubuhku, kretek yang sedari tadi menemaniku, kuhisap dalam-dalam lalu kuhembuskan penuh marah

Sembari bergugam " aku rindu kita yang dulu; berjalan menyusuri kota, bercerita tentang kita  lalu duduk di tempat ini dan kau sandarkan kepalamu di pundaku"




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline