Lihat ke Halaman Asli

BAGAIKAN DANDELION

Diperbarui: 6 Februari 2021   20:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Ini adalah kisah seorang gadis yang awalnya lahir di dalam keluarga yang baik-baik saja,tapi semua hal baik itu hilang dalam seketika. Sebut saja namanya Khai. Khai adalah salah satu dari banyak temanku yang memiliki kisah yang menurutku cukup inspiratif. Ia adalah anak yang ceria dan terlihat tidak memiliki masalah. Bahkan,ia sering kali menjadi penghibur saat teman-temannya yang lain sedang sedih. Ia menjadi salah satu temanku yang kupercaya untuk bercerita. Karena saran dan cara dia mendengarkan ceritaku sangat membuatku nyaman. Tetapi aku tak sadar dibalik kedewasaan dan keceriannya ia juga menyimpan luka yang cukup menyakitkan.

Khai adalah anak bungsu dari tiga bersaudara,ayahnya bekerja sebagai wirausahawan dan ibunya merupakan seorang guru. Kehidupan keluarganya berawal dengan sangat indah dan baik-baik saja. Menurutku,ayah dan ibu Khai mendidik anak-anaknya dengan sangat baik. Buktinya, kedua kakak Khai berhasil menyelesaikan pendidikan dan memiliki pekerjaan yang sudah cukup mapan. Khai juga tumbuh menjadi anak yang sangat baik dan memiliki cukup banyak prestasi. Aku mengenal Khai saat kondisi itu tak lagi sama. Saat itu orang tuanya sudah berpisah dan Khai sudah memiliki ayah tiri. Tapi tak pernah sedikitpun terbayangkan olehku, penderitaan yang dialami oleh Khai cukup berat saat itu.  

Di sekolah, Khai selalu menjadi penghibur dan menjadi pemecah suasana. Saat itu,kami duduk di bangku SMP. Kalau kondisi sedang sepi, ada saja kelakuannya yang membuat kami tertawa. Tapi,dia juga tidak sebaik itu ia cukup pemarah dan egois dalam kondisi tertentu. Ia bisa marah sejadi-jadinya kalau ada hal yang dia tak sukai. Pernah ada satu kejadian dimana Khai sedang menemani salah satu teman kami untuk konsultasi ke guru bimbingan konserling,salahnya saat itu sedang ada ulangan. Khai dan satu temanku itu memang kebagian sesi pertama jadi saat mereka selesai,temanku izin untuk pergi ke ruang BK. Mereka cukup lama sampai sesi kedua ulangan  juga sudah selesai. Saat kembali ke kelas, ibu guru yang sedang membahas hasil ulanagan kaget karena ternyata temanku tak sendirian. Ibu langsung bertanya sambil sedikit marah “Khai abis ngapain kamu baru masuk?” “Nganter Puri bu,ke ruang BK” jawab Khai santai saat itu. “Perasaan,ibu gadenger tuh kamu minta izin.” Jawab ibu dengan nada yang cukup naik, dan dengan lantangnya Khai menjawab “Mohon maaf sepertinya emang tidak terdengar oleh ibu,tapi tadi saya izin kok bu.” Ibu guru hanya melihat tanpa menjawab “lagian niat aku juga baik bu bantu temen.” Ucap Khai. Cukup berani bukan, itulah Khai yang kami kenal selain pandai berbicara,ia juga sering  membantu teman lain yang cukup sulit untuk berinteraksi dengan orang banyak. Orang-orang yang belum mengenalnya secara dalam,biasanya hanya tau kalau Khai itu ya seperti itu galak dan ceplas-ceplos. Nyatanya, dia punya cara sendiri untuk berbuat baik terhadap orang lain.

Selama kami berteman, Khai bukan tipikal orang yang mudah menceritakan kesedihannya. Biasanya,ia hanya akan menceritakan hal-hal lucu yang ia alami. Pernah sih ia menceritakan beberapa hal yang sedih dan cukup berat. Tapi pada akhirnya ia akan membalut ceritanya dengan sebuah lelucon. Hal itu, membuat aku tak pernah berfikir kalau selama ini ia selalu menahan kesedihan. Dia pernah bercerita bahwa ayah dan ibunya bercerai saat ia berusia 6 tahun, dan saat Khai berusia 9 tahun ia harus ikut ibunya yang menikah lagi dengan ayah tirinya. Dan ia harus memiliki tiga kakak tiri yang katanya lumayan membuatnya tak nyaman,bahkan Khai pernah cerita dulu ia dan dua kakak tirinya serumah. Tapi karena ada sindir menyindir yang cukup pedas, akhirnya ia meminta untuk pisah rumah. Saat menceritakan itupun aku tak melihat raut sedih di wajahnya,dia menceritakan semuanya seperti tak ada beban yang ia rasa. Setelah cerita itu, ia tak pernah berbagi keluh kesah lagi. Sampai akhirnya, aku menyadari satu hal yang hilang darinya. Ia yang dulu ceria terkadang mulai terlihat murung,tapi aku tidak bertanya alasan mengapa hal itu terjadi. Ia disibukan oleh banyak hal yang mungkin pada saat itu kesibukannya sedikit membantu ia untuk melupakan masalah yang ia hadapi.

Kejanggalan akan sikapnya terasa saat kami duduk di bangku SMA. Dia menjadi tidak terlalu aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler, ia juga menjadi lebih sering menyendiri di kamarnya dibanding bermain dengan teman-temannya. Akhirnya aku mencoba untuk bertanya sebenarnya apa yang terjadi. Dan ajaibnya dia akhirnya mau menceritakan kesedihan yang ia rasakan. Ia bilang kesedihan dan kesendirian mulai dirasakannya disaat ia sudah tidak terlalu produktif di luar sekolah seperti dulu. Sejak dia banyak menghabiskan waktu sendiri di rumah, masalah-masalah,kenangan dan trauma yang ia rasakan dulu kembali lagi,malah semakin parah. Ia yang dulu berfikir sudah nyaman melihat ibu dan ayah tirinya,nyatanya masih cemburu dan tetap memikirkan ayahnya. Ia yang selama di rumah merasa tak ada yang memperhatikan kesehatan mentalnya. Kakak-kakak Khai yang kurang mengerti kondisi yang ia rasakan dan luapan kekesalan yang ia pendam selama ini.

Saat itu, Khai juga sangat sulit untuk menemui ayahnya, ayahnya selalu mencari alasan agar Khai tiddak datang menemuinya. Khai bilang alasannya keuangan,padahal ia menghubungi ayahnya bukan semata-mata karena uang,ia rindu,ia ingin memeluk ayahnya,ia ingin makan dan duduk bersama ayahnya. Tapi ayahnya tetap menolak dan ia akhirnya mengalah. Tak tahu ada angin apa semua kakak-kakaknya pun terasa lebih menyebalkan.  Semua terasa menuntut Khai,menuntutnya untuk menjadi adik yang baik. Padahal selama ini, bahkan sampai ia berusia 17 tahun. Ia juga tak diperlakukan dengan baik selayaknya adik, ya mungkin karena jarak usia yang cukup jauh dan saat itu,kakak-kakaknya sudah sibuk menata masa depannya. Jadi saat ada tuntutan untuk menjadi addik yang baik, ia cukup kesal dan akhirnya ia sedikit menghindar dari kakak-kakaknya.

Semua seolah-olah datang untuk menyiksanya, ia sadar bahwa selama 11 tahun terakhir, ia begitu banyak menyimpan kesedihan yang selalu ia pendam dan akhirnya meluap saat itu juga. Ia tak sadar bahwa luka yang ia simpan ternyata sangat besar. Hati tulusnya ternyata tak sehat selama ini,senyum dan leluconnya selama ini ternyata hanya kakasan kosong,bahkan tawanya yang menurutku sangat menyenangkan,itu semua palsu, itu semua ada untuk menutup lukanya. Puncaknya, ia memberanikan diri untuk jujur akan semua perasaan yang ia pendam selama ini kepada keluarganya. Dengan harapan mereka akan mengerti dan sedikit demi sedikit bebannya terhilangkan. Dan dengan harapan mereka akan saling mengintropeksi dirinya masing-masing dan mereka akan menguatkan Khai. Atau mengucapkan sedikit kata maaf.  Nyatanya, saat iya menceritakan semua kesedihan termasuk kesakitan hatinya saat ia memiliki kakak tiri yang kurang menerimanya. Ibu dan ayah tirinya malah membela diri dan ayah tirinya bilang “sama khai anak papah juga mungkin kaya gitu karena belum bisa menerima.” Bayangkan betapa menyakitkan saat kesedihan yang ia simpan bahkan untuk menjaga pesaan mereka selama ini,diterima dengan jawaban pembelaan yang cukup untuk mengancurkan semua harapan yang ia punya.

Semua harapan yang ia taruh hancur tanpa menyisakan puing. Rasa sakit yang besar semakin menjadi. Khai bahkan pergi dari rumah dan meluapkan emosinya. Sayangnya, ia juga kurang nyaman berada di rumah lain. Akhirnya Khai mengalah dan menurunkan sedikit egonya untuk pulang ke rumah. Saat di rumah pun, Khai masih menyimpan setitik harapan kecil,bawasanya ia akan mendengar kata maaf. Ia bilang, ia pulang dengan mukanya yang datar dan lansung pergi ke kamar dengan hanya mengucapkan salam. Seharian ia diam di kamar,keluar hanya untuk pergi ke kamar mandi. Tiga hari berlalu, ia tetap diam di kamar bahkan ia tidak memakan apapun. Siang hari saat orang tuanya kerja kakaknya kan datang membawakannya makanan. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut orang tuanya. Ibunya malah marah dan menelfon kakak perempuannya. “ Teh, kenapa Khai ditanya ga jawab, disuruh makan gamau?.” Bukannya intropeksi ibunya malah kebingungan. Setelah mendengar hal itu, harapan yang awalnya besar,mengecil, menjadi hanya setitik sekarang mungkin menjadi harapan terakhir dari semua harapan yang ada. Seminggu ia menunggu tak ada kata maaf sedikitpun ia dengar.

Kekesalah dan keresahannya lagi-lagi mengalahkan egonya, ia akhirnya memulai pembicaraan lagi dengan ibunya. Saat pembicaaraan kedua ini, ibunya hanya membela diri dan terus membela dirinya,bahkan ia juga membela kesalahan ayah tiri Khai malam itu. Bukannya meminta maaf ibunya malah menyuruh Khai yang minta maaf. Tak terbayang bila kondisi itu terjadi kepadaku. Khai hanya butuh satu kata maaf, tapi entah mengapa itu sangat sulit. Entah keberapa kalinya hal ini terjadi, ia lagi-lagi dan lagi mengalah dan meminta maaf,kepada ibu dan ayahnya. Hari itu hatinya hancur sehancur- hancurnya. Ia kembali menampakan senyum an tawa palsunya. Ia kembali memainkan perannya layaknya seorang badut.

Khai bilang, ia tak pernah menyesali semua yang sudah ia lakukan dan ucapkan malam itu. Ia juga bilang, malam itu mungkin memang menjadi malam terburuk untuknya. Tapi bila dia tak pernah menciptakan malam yang buruk itu, harapan dan ekspetasi dia untuk keluarganya mungkin malah semakin besar. Dan katanya “memaafkan akan lebih mudah disaat ekspetasi kita terhadap orang lain sudah tidak terlalu tinggi.” Kehidupannya mungkin belum sempurna, tapi setidaknya Khai sudah berani keluar dari topeng yang telah lama ia simpan. Kondisi keluarganya pun mungkin akan tetap begitu saja, tapi setidaknya Khai sudah bisa untuk tidak mengharapkan kondisi yang lain akan terjadi di keluarganya.

Dari ceritanya aku sadar,betapa sulitnya ia menahan ego. Karena seperti yang ku tahu dia sangat amat keras kepala. Tapi disaat kondisi itu memaksanya untuk mengalah,ia mengalah. Bahkan ia mengalah terus menerus. Sebuah keanehan yang terjadi untuk orang yang di kenal sangat egois. Aku jadi sadar kalau dengan rasa cinta yang tulus sekeras apapun kita dan seegois apapun kita, kita akan mengalah untuk kebahagiaan orang yang kita cinta. Aku penasaran dan bertanya kenapa akhirnya ia mengalah, jawaban yang ia berikan sangat sederhana “ Sejauh apapun kamu pergi dari masalah yang ada, masalah akan tetap ada dan mungkin akan membesar. Jadi apa salahnya untuk hadapi saja dan terima apapun yang akan terjadi,karena mungkin saja itu yang terbaik.” Mendengar hal itu, aku sadar kalau lari dari suatu masalah bukanlah jawaban melainkan mungkin akan jadi beban.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline