Lihat ke Halaman Asli

Irma Tri Handayani

Ibunya Lalaki Langit,Miyuni Kembang, dan Satria Wicaksana

[Kado Terindah] Lemari Nenek

Diperbarui: 12 Oktober 2019   12:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lemari antik. Sumber insinyurbangunan.com

"Bawa lemari ini nanti kalau kamu punya rumah,ini kado nenek jika nanti kamu menikah!" Begitu pinta Nenek suatu hari.

"Ah,lemarinya kan sudah jelek Nek,biar aku beli saja nanti!" Tolakku padanya.

"Jelek apa? Orang masih bagus begini!bawa ya awas kalau enggak! "Ancam Nenekku kembali. Aku terbahak mendengarnya.

"Iya Nenek sayaaang!"jawabku sambil memeluknya dari belakang. Nenek tekekeh-kekeh.

Percakapan itu masih terbayang hingga detik ini. Nenek ingin aku membawa lemari kesayangannya. Lemari itu sebenarnya masih bagus sih,tapi ya sudah jadul gitu. Kalau nanti aku dan suamiku pindah ke rumah baru,aku tak yakin akan membawa lemari itu ke rumah.

Namun karena Nenek terus-terusan meminta tadinya untuk menenangkan beliau saja aku mengiyakan. Nanti seumpama jadi pindah bisa jadi aku takkan membawa lemari itu,bisa saja kuberikan pada saudara atau sanak tetangga yang butuh.

Nenekku,seperti halnya wanita tua lain,suka sekali menyimpan segala hal meskipun dia tak membutuhkan. Dari mulai barang hingga makanan.


Misal nih kalau hari raya Idul Adha. Daging pemberian sana-sini dia tampung dan tak ingin dibagi. Alasannya mau dimasaknya nanti. Padahal kadang hingga sebulan dagingnya tak juga dieksekusi. Akhirnya mubajirlah jadinya karena berakhir di tempat sampah.

Dia hapal jumlah peralatan rumah tangga yang dipunyanya semenjak jaman dahulu kala. Namun kepikunannya membuat kadang sering lupa menyimpan sendok atau garpu bahkan tikar sekalipun misalnya. 

Kalau sudah begitu kadang dia menuduh tetangga yang pernah meminjam lupa untuk mengembalikan, padahal waktu peminjaman yang tetangga lakukan sudah bertahun-tahun lalu, tapi dia yakin barangnya masih parkir di tetangga.

Kadang keinginannya untuk menanyakan pada tetangga tak tertahan. Repotlah kita sebagai cucunya untuk menahan.urusan begini kadang bikin tetangga naik pitam. Biasanya kalau sudah begitu saya sebagai cucunya meminta maaf pada mereka atas kekhilafan menek. Untunglah mereka mengerti.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline