Lihat ke Halaman Asli

Tantangan dalam Implementasi Hifdzu Din pada Pendidikan Aceh

Diperbarui: 5 Juni 2024   23:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ruang Kelas. Sumber Ilustrasi: PAXELS

Agama adalah suatu sistem yang mengatur kepercayaan dan ibadah kepada Tuhan serta aturan-aturan yang berkaitan dengan adat istiadat dan pandangan dunia yang mengikat manusia pada suatu tatanan kehidupan. Agama juga dapat diartikan sebagai suatu pandangan hidup yang seluruh aktivitas jasmani dan rohani orang yang beriman diatur oleh agama yang dianutnya.

Salah satu konsep penting dalam menjaga keberlangsungan dan integritas agama adalah Hifzu Din. Hifzu Din mencakup berbagai aspek yang bertujuan untuk memastikan bahwa ajaran dan nilai-nilai agama tetap relevan, dipahami dengan benar, dan diterapkan dengan konsisten dalam kehidupan umat.

Hifzu Din bukan hanya tentang melindungi agama dari pengaruh luar yang merugikan, tetapi juga tentang memperkuat pemahaman dan praktik keagamaan. Ini termasuk pendidikan agama yang komprehensif, pengembangan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai religius, serta pengamalan ibadah yang tulus dan ikhlas.

Pendidikan merupakan eleman penting dalam membentuk modal insan yang berperan dalam menetukan arah pembangunan negara pada masa depan. Tidak hanya penentuan bagi negara, namun juga bagi masa depan manusia itu sendiri.

Pengajaran dan pemeliharan agama melalui pendidikan tentu merupakan hal yang penting, terutama di Aceh. Kota dengan sebutan Serambi Mekkah ini dikenal dengan penerapan syariat Islam yang kuat dalam kehidupan masyarakatnya. Pendidikan di Aceh tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter dan pemahaman keagamaan yang mendalam.

Ujar Fitri Maulia, S.Pd.I, yang merupakan Guru Pendidikan Agama Islam SD Negeri 1 Karang Baru, Aceh Tamiang, mengatakan "Implementasi pemeliharaan dalam pendidikan sudah baik, seperti khusus untuk Aceh Tamiang. Kadis menghimbau, sehari dalam seminggu di sekolah melakukan tadarus Al- Quran, dan melaksanakan shalat Dhuha. Dan kebijakan sekolah setiap hari Jumat melaksanakan zikir atau baca Yasin atau surah Al Kahfi. Selain itu ada juga ekskul di bidang keagamaan seperti Tahfiz, pidato."

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dilihat bahwa pemeliharaan agama yang dilakukan dalam bidang pendidikan di Aceh tidak hanya menjadi bagian dari sistem pendidikan formal, tetapi  juga menjadi upaya dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai Islam serta menjadi fondasi yang kokoh bagi pembangunan karakter dan identitas masyarakat Aceh.

Namun dibalik usaha itu semua tentu terdapat tantangan tersendiri.

"tiap upaya untuk mencapai suatu tujuan, tentu ada tantangan atau kesulitannya" ujar Fitri Maulia. Ia juga menambahkan "Misalnya, untuk pelaksanaan zikir, saya ambil contoh dari SD Negeri 1 Karang Baru dengan hampir 500 peserta didik. Tidak semua anak dapat fokus untuk pelaksanaan zikir ada yg bercerita tertawa, hal ini mungkin disebabkan karena masih kurangnya pemahaman atau kesadaran peserta didik akan hikmah berzikir."

Maka dari itu, Harapan penulis adalah agar tenaga pendidik dan orang tua di Aceh dapat bekerja sama secara harmonis dalam memelihara dan melestarikan ajaran agama melalui pendidikan. Dengan upaya bersama ini, diharapkan generasi muda Aceh akan tumbuh menjadi individu yang religius, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan zaman dengan berpegang teguh pada nilai-nilai agama. Pemeliharaan agama melalui pendidikan tidak hanya akan menguatkan identitas religius masyarakat Aceh, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan dan kemajuan bangsa secara keseluruhan.

Referensi:

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline