Lihat ke Halaman Asli

Kuncoro Maskuri

Doktor Linguistik Pragmatik

Dengan "Kata" Bisa Mengubah Keadaan Dunia

Diperbarui: 17 April 2018   20:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber: nasional.republika.co.id

Dengan 'Kata' bisa Mengubah Keadaan Dunia

"Kata",  sebagai sebuah benda, punya karakter  seperti 'air', 'udara' atau 'angin' yang mempunyai massa/berat, karena mempunyai massa berarti memiliki energi, daya, tenaga  atau kekuatan.

Energi atau kekuatan dari 'kata'  terletak pada arti/makna kata tersebut dan energi ini bisa keluar atau muncul bila ada yang menggerakkan, yaitu pikiran dan perasaan.

Artikel ilmiah/non-fiksi dalam  jurnal, skripsi, tesis, desertasi, buku ajar, atau opini merupakan media atau alat untuk menyalurkan energi atau kekuatan. 

Demikian  pula artikel fiksi/non-ilmiah dalam puisi, cerpen, novel, atau naskah drama merupakan media/alat untuk menyalurkan energi atau kekuatan. Apapun alat/medianya, 'kata' memiliki kekuatan yang bisa mempengaruhi pikiran atau perasaan seseorang. Tingkat kekuatan dari 'kata' bisa dipengaruhi oleh faktor kebahasaan (faktor internal) maupun di luar kebahasaan (faktor eksternal).

Faktor kebahasaan berkaitan dengan a.l. pilihan kata/diksi, susunan kata/sintaksis,  dan penulisan kata. Sebagai contohnya adalah pemakaian kata benda dan kata sifat yang tersusun dalam kalimat berikut:   (1)Diamendengar kabar.    (2) Diamendengar kabar       positif/negatif

Pada kalimat (1)  'Dia mendengar kabar', kalimat ini kurang mengandung makna yang kuat bagi pendengar/pembacanya karena tak ada tambahan kata sifat setelah kata 'kabar' (kata benda), maka kurang/tidak mampu menarik perhatian pembaca/pendengar. Bandingkan dengan kalimat (2) Dia mendengar kabar negatif/positif'dengan tambahan kata sifat 'negatif' atau 'positif' setelah kata benda 'kabar' maka kalimat ini bisa lebih mendorong pembaca/pendengar untuk mencari tahu lebih dalam tentang maksud dari kabar negatif atau positif tersebut.

Kata 'positif' dan 'negatif'' dalam pemakaian bahasa mengandung makna ynag mengacu pada suatu kondisi tertentu (unsur makna/semantik dan pragmatik). 

Kata 'negatif' mengacu pada kondisi atau sifat sesuatu yang dianggap  tidak baik, jelek, atau buruk, sebaliknya kata 'positif' mengacu pada sifat sesuatu yang dianggap tidak jelek, baik, atau bagus. Itulah contoh gambaran  kekuatan suatu kata dari faktor internal kebahasaan berdasar susunan kata-katanya.

Namun demikian sebuah kata benda bisa juga memiliki kekuatan makna yang bisa mengubah suatu keadaan meskipun tidak ada tambahan kata sifat setelah kata benda yang dimaksud. Hal ini bisa terjadi karena adanya unsur/faktor di luar kebahasaan  misalnya kedudukkan sosial, latar belakang sosi-kultural atau ideologi dari  penutur/pengucap atau penulis dan konteks peristiwa komunikasi.

Contohnya adalah sebagai berikut. Masih ingatkan, dengan ucapan-ucapan yang disebutkan oleh Amin Rais atau Prabowo Sugianto? Mereka menyatakan_ mungkin tidak sama persis_ : (1) 'Pembagian sertifikat tanah untuk rakyat adalah pengibulan',  (2) 'Tahun 2030 Indonesia bubar', atau yang paling hangat, (3) 'Partai PAN, Gerindra, dan PKS adalah partainya Allah, partai lain adalah partai setan'. Kata dan frasa yang digarisbawahi menunjukkan fokus utama kalimat tersebut yang mengandung makna/pesan yang kuat bagi pendengar/pembacanya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline