Jika korupsi kecil tidak perlu dipenjara, apakah itu membuat orang yang akan membuat korupsi besar jera?
Hari Antikorupsi Internasional atau Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) setiap tahunnya diperingati pada tanggal 9 Desember.
Peringatan ini bertujuan untuk mendidik masyarakat tentang masalah korupsi yang dapat merusak pembangunan sosial dan ekonomi di semua masyarakat di seluruh dunia.
"Kalau ada kepala desa taruhlah betul terbukti ngambil duit tapi nilainya enggak seberapa, kalau diproses sampai ke pengadilan, biayanya lebih gede," ujar Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Alexander Marwata pada Peluncuran Desa Antikorupsi.
Hal ini tidak serta-merta uang korupsi dikembalikan, tapi mesti lewat putusan pengadilan. Sebagai ganjaran lainnya, kepala desa bisa dipecat berdasarkan musyawarah masyarakat setempat.
Tetapi ini justru jadi dilema saat kita ingin melihat pembangunan desa semakin maju dan berkembang, tapi kalau ada pelanggaran korupsi kecil di desa tidak ditindak tegas.
Bagaimana sikap dan tanggapan Kompasianer dengan tindak korupsi kecil di desa? Kalau memang ada yang perlu direvisi, berapa batas minimal kerugian negara agar bisa ditindak dan membuat jera?
Lalu bagaimana dengan perilaku kita sehari-hari? Adakah korupsi-korupsi kecil yang pernah kita lakukan? Apakah perilaku tersebut perlu diganjar pula dengan hukuman?
Silakan tambah label Hari Antikorupsi 2021 (menggunakan spasi) pada tiap konten yang dibuat.
*) Judul disadur dari sajak Joko Pinurbo, Surat Kopi: "Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi."