Selamat menunaikan ibadah puasa. Kuucapkan kepada engkau, sahabat-sahabatku. Entah mengapa hati ini turut berdebar.
Merasakan kedamaian di bulan suci Ramadan. Perasaan ini masih bergetar.
Puasa hukumnya wajib bagi umat Muslim. Menahan lapar, haus, dan nafsu itu penting. Mencontohi teladan Nabi, serta belajar mengendalikan diri.
Mengapa tidak bagi non-muslim?
Aih, diriku cemburu. Tidak pernah merasakan berpuasa, bahkan tidak pernah diajarkan begitu.
Guruku pernah meledekku. Seorang biksu, beragama Buddha tentu. "Lihatlah para sobat Muslim, mereka bisa menahan nafsu selama sebulan penuh."
Tentu, tidak ada kewajiban berpuasa bagi diriku. Meskipun agama Buddha juga punya caranya tersendiri. Atthasila Namanya.
Biasanya dilakukan pada saat hari Uposatha. Sebulan bisa empat kali. Jika terlalu berat, masih bisa dikorting.
Tapi, saya lebih banyak dapat gratis. Alias tidak pernah melakukannya. Aih, memalukan!
Tentu saja Guruku tidak bermaksud mengejekku. Itu hanya ilusiku. Beliau selalu melihat dunia dengan positif. Melihat kehidupan yang tidak provokatif. Mengajariku untuk selalu bersikap sportif.