Lihat ke Halaman Asli

Acek Rudy

TERVERIFIKASI

Palu Gada

Filosofis "Yin-Yang" dalam Hubungan Ayah dan Anak Perempuannya

Diperbarui: 24 Oktober 2020   21:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Hubungan Ayah dan Anak Perempuannya (sumber: pinterest.com/theodysseyonline.com)

Ada mitos kuno yang mengatakan bahwa anak perempuan adalah reinkarnasi dari kekasih masa lalu ayahnya. Mungkin terdengar konyol, namun jika ditilik, tentu saja ada alasan mengapa hubungan emosional antara ayah dan anak perempuannya begitu erat.

Sosok Ayah adalah Lelaki Pertama bagi Sang Putri

Adalah filsafah Yin-Yang yang menyatakan bahwa di dunia selalu ada dua keseimbangan dari dua kekuatan berbeda yang saling melengkapi. Laksana siang dan malam, gelap dan terang, baik dan buruk, demikian pula dengan pria dan wanita yang saling mengisi.

Pangkal kekacauan di dunia ini bilamana terjadi ketidakseimbangan, bagaikan musim kemarau panjang yang membutuhkan air dalam pelukan, begitu pula dengan alasan mengapa budaya patriarki harus dilengkapi dengan gerakan emansipasi.

Kualitas Yang pada Lelaki dilambangkan sebagai energi yang melambangkan kekuatan fisik, ketegasan, dan wibawa. Sementara energi Yin yang lazim menjadi milik wanita, sering diasosiasikan dengan kelembutan, keanggunan, dan keindahan. Dunia akan menjadi kuat bilamana dua kekuatan yang berbeda ini menyatu menjadi satu, bagaikan sepasang insan yang saling mencintai.  

Seorang putri Yin akan merasakan kehadiran sosok ayah sebagai energi pertama Yang dalam kehidupan. Kekuatan emosional yang terjalin membuat dirinya mengenal arti dari keseimbangan duniawi. Setiap ayah adalah lelaki pertama bagi sang putri.

Didikan Ayah adalah Pelajaran Pertama Mengenai Perbedaan

Energi Yin dan Yang akan menjadi lengkap bila sifat feminim bercampur dengan energi maskulin. Meskipun kedua sifat ini sudah melekat pada kodratnya, sesungguhnya setiap gender memiliki dua energi yang berbeda dalam dirinya.

Lelaki memaklumi kodrat wanita, namun di saat yang sama ia juga harus belajar untuk mengembangkan sifat feminim dari dalam dirinya. Seorang wanita yang telah memilih seorang lelaki sebagai pendamping hidup, harus bisa belajar untuk menggantikan peran ayah saat dibutuhkan.

Ibu mencintai anaknya dengan penuh kasih sayang. Ia akan memberikan yang terbaik untuk selalu mendampingi dengan penuh kelembutan. Namun, seorang ayah akan membiarkan anaknya terjepit dalam masalah-masalah kecil untuk menemukan solusinya sendiri. Bukan karena tidak mencintai, tetapi tidak lain untuk mengajari diri tentang kenyataan hidup yang keras.  

Seorang putri akan merasakan cinta lelaki yang sesungguhnya dari Sosok Ayah 

Hal yang paling ribet dalam hubungan pasangan adalah tuntutan dari perbedaan. Seorang suami dituntut untuk mencari nafkah, dan seorang istri harus melayani keluarga. Masalah sepele kemudian menyeruak hanya karena istri lupa memasak. Pun halnya jika ekonomi sedang turun, seorang suami akan menjadi bulan-bulanan istri yang butuh sayur untuk direbus.

Akan tetapi cinta seorang lelaki kepada sang putri, adalah perlambangan dari cinta sejati tanpa pamrih. Sang anak gadis bisa saja berulang kali patah hati kepada lelaki pujaannya, tetapi tidak pada ayahnya.

Seorang ayah telah mencintai putrinya bahkan jauh sebelum ia lahir di bumi ini. Ia mungkin kelihatan tegas dan seringkali memarahi, namun ia tidak pernah menyakiti hati anaknya sendiri. Tak jarang sang putri mengidolakan sosok ayahnya berada pada diri sang suami, yang dapat mengusir laranya dengan caranya sendiri.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline