Lihat ke Halaman Asli

Kiko Kawari

Kikokawari

Siapa Kelompok Perusak Baliho Demokrat?

Diperbarui: 18 Desember 2018   00:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gambar: Mojok

Pak Beye kembali bersedih.

Kali ini bukan karena anaknya tidak jadi maju jadi memimpin Jayakarta alias Jakarta, melainkan karena rusaknya baliho. Baliho ini merupakan baliho Partai Demokrat di Riau Sabtu (16/12/18) lalu. Baliho yang sangat dikasihinya karena ini bukan baliho sembarang baliho. Tidak hanya balohi, bendera juga sekalian ikut dirusak.

Baliho yang mengibarkan nama partai yang ia bangun bersama kawan politiknya dan membesarkan namanya hingga membawanya menjabat sebagai presiden RI dua periode. Bukan main dashyatnya.

Dilansir dari laman tribunnews, SBY yang didampingi Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan serta petinggi Demokrat Riau dan Pekanbarul lainnya pun tak menyangka menyaksikan sendiri atribut Partai Demokrat dirusak orang.

"Saya menyaksikan hampir semua atribut Demokrat dirusak, dicabut bahkan dipotong dan dibuang ke parit-parit ataupun berserarakan di jalan," kata SBY seperti dikutip dari tayangan Youtube Kompas Siang.

SBY menjelaskan bahwa dirinya bukanlah calon presiden (capres) yang berkompetisi dengan Presiden Jokowi.

Pernyataan Pak Beye bersifat pragmatis. Pasalnya apa yang ia utarakan di depan media yang meliput dapat memiliki arti yang beragam atau multitafsir. Apakah yang dimaksud pak Beye ialah kubu lawan politik yang dirinya dukung, yakni Prabowo-Sandi, menyerang dirinya. Atau apakah yang dimaksudkan pak Beye memang langsung pada pak Jokowi dan jajarannya, partai yang mengusungnya, dan partai koalisinya. Ya, dua maksud itu bisa iya atau bisa juga tidak tepat tergantung penafsiran pembaca.

Lebih Lanjut, SBY menuturkan "Lebih baik kita mengalah dan diturunkan daripada kita menyaksikan bendera kita, baliho-baliho yang tidak bersalah dirobek, diturunkan, dijinjak-injak dibuang ke selokan. Sama dengan menginjak-injak saya, merobek saya dan membuang saya ke selokan, lebih baik kita mengalah."

Setelah pernyataan pertama, otomatis pernyataan kedua ini lebih menekankan keekcewaanya terhadap kubu lawan yang menyerang dengan cara merusak-rusak.

Pernyataan ini ditegaskan pula oleh Andi Arief, seperti dilansir dari detik, berikut ini.

Andi mengatakan, berdasarkan pengakuan orang yang ditangkap polisi, ada 35 orang yang diperintahkan untuk merusak baliho, spanduk, dan bendera tersebut. Ke-35 orang tersebut dibagi dalam 5 kelompok.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline