Oleh : Khusnul Khotimah
Mahasiswa Prodi Sosiologi, FISIB, Universitas Trunojoyo Madura
Wayuh merupakan istilah Jawa. Kata ini disematkan pada laki-laki yang memiliki istri lebih dari satu atau poligami. Praktik wayuh adalah tradisi kuno masyarakat Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Lazimnya wayuh dilakukan dua kali sehingga memiliki dua istri yang dianggap sah. Selebihnya dilakukan secara diam-diam (nikah siri).
Menurut sejarah, tradisi wayuh sudah ada sejak zaman kerajaan di Jawa. Para Raja memiliki istri banyak. Istri pertama disebut permaisuri. Istri kedua dan seterusnya dikenal dengan sebutan selir. Kerajaan Singosari misalnya, Ken Arok memiliki 2 istri yaitu Ken Dedes dan Ken Umang. (tirto.id).
Selain raja, pemimpin bangsa seperti Soekarno, juga diketahui beristri lebih dari satu. Selain Fatmawati, Presiden pertama Republik Indonesia ini memiliki istri Oetari Tjokroaminoto, Ratna Sari Dewi, Kartini Manoppo. (tribunmanado.co.id).
Adapun dari kalangan agamawan juga melakukan poligami yaitu Aa Gym dengan istri pertama Hajjah Ninih dan istri kedua Alfarini Eridani. (tribunnews.com). Praktik wayuh banyak dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari kalangan bangsawan, agamawan maupun kalangan bawah.
Secara sepintas, poligami memang diperbolehkan, baik secara agama maupun hukum negara. Tetapi tradisi wayuh sangat berdampak serius terhadap kependudukan di Indonesia. Utamanya, pada tingginya fertilitas yang kemudian mempengaruhi jumlah penduduk. Praktik wayuh, tetap eksis pada masyarakat Jawa hingga saat ini. Masyarakat Jawa memandang wayuh sebagai sesuatu yang legal.
Adapun syarat dan ketentuan yang tertuang dalam UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 Pasal 4 ayat (2) menjelaskan bahwa pengadilan hanya memberikan izin kepada suami yang akan beristri lebih dari satu apabila istri tidak dapat menjalankan kewajibannya, istri memiliki cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan, dan istri tidak dapat memberikan keturunan.
Meskipun praktik wayuh diperbolehkan, namun banyak kalangan masyarakat yang tidak memperhatikan dampak yang ditimbulkan dari adanya praktik wayuh yaitu meningkatkan angka kelahiran bayi.
Perempuan memiliki kemampuan secara alamiah dalam melahirkan bayi yang disebut fekunditas. Periode reproduksi perempuan adalah sejak menstruasi sampai menopause. Sehingga selama masa subur perempuan dapat melahirkan bayi dalam jumlah banyak apabila tidak dibatasi. Dari setiap perempuan yang menikah akan menyumbang pertambahan penduduk. Karena sesuatu yang diharapkan dari pernikahan adalah memiliki keturunan untuk regenerasi.
Asumsi ini diperkuat dengan budaya patriarki yang cenderung menginginkan anak laki-laki. Jika perempuan belum bisa memberikan anak laki-laki, maka diupayakan sedemikian rupa demi mendapatkan anak laki-laki yaitu dengan cara menambah anak maupun melakukan wayuh. Mereka menganggap anak laki-laki bisa menjadi pemimpin keluarga, menjadi penerus keluarga, dan diharapkan bisa membantu perekonomian keluarga serta legitimasi lain yang melekat pada budaya patriarki.