Lihat ke Halaman Asli

Kholil Rokhman

IG di kholil.kutipan

Cerpen | Petak Sawah Terakhir

Diperbarui: 3 Maret 2020   19:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

foto hanya ilustrasi, sumber foto: kompas.com

Bapak tak pernah berubah pikiran. Bapak tak mau menjual sawah sekalipun berulang-ulang dia terus dirayu dari berbagai penjuru.

Sawah bapak tak luas, kira-kira seperempat lapangan sepak bola. Sawah itu memberi kontribusi bagi pendidikanku dan kakakku. Selain pendapatan dari menjual gabah hasil sawah, keluarga kami mendapatkan rupiah dari warung kelontong ibu yang ada di depan rumah.

Bapak sudah berkali-kali bilang bahwa dia tak akan pernah menjual sawah. Saat itu, pengembang rumah datang dan menawari harga yang cukup tinggi, tapi bapak tak mau menjualnya. Alhasil, perumahan dari pengembang itu seperti ada ruang yang berlubang karena ada sawah milik bapak. Sawah bapak dikelilingi perumahan.

Para kolega bapak yang dulu punya sawah memutuskan menjual pada pengembang perumahan. Pasalnya, mereka sudah jenuh bersawah karena pendapatannya tak seberapa. Jika panen besar, harga  gabah anjlok. Di lain sisi, tak jarang sawah gagal panen karena hama yang sepertinya sudah kebal dengan obat kimia.

Mereka, para kolega bapak itu berpikir praktis. Buat apa susah payah bertani. Lebih baik sawah dijual dan uang untuk dagang atau usaha lainnya. Atas keputusan para teman itu, bapak tak pernah memprotesnya karena itu hak masing-masing orang.

Tanah sawah milik bapak itu adalah tanah basah, yakni tanah yang memang diperuntukkan bagi sawah. Harusnya memang dilindungi dan tak boleh digunakan untuk yang lain, seperti dibuat untuk perumahan. Namun, ya begitulah. Ketika semua sudah sepakat menjual sawah, mau bagaimana lagi.

Tapi, bapak tak pernah mempersoalkan tanah basah dan tanah kering. Bapak tetap berpendirian tak menjual sawah, tapi bukan karena tanah itu tanah basah. Bapak tak mau menjual karena itu adalah sawah warisan turun-temurun. Bapak merasa dosa besar jika menjual sawah itu. Bahkan, ibarat kata, apapun yang terjadi, bapak akan mempertahankan sawah itu.

Satu ketika dalam beberapa hari, aksi ratusan orang pernah muncul di sekitar sawah. Itu terjadi saat awal-awal sawah akan dibeli. Mereka yang demonstrasi itu meminta agar pemerintah tetap memelihara sawah  dan meminta pengembang tak membeli area sawah itu. Mereka juga memprotes mengapa pemerintah membolehkan penjualan lahan basah untuk dijadikan perumahan.

Kala demo itu, seperti sekumpulan orang 'asing'. Sebab, banyak dari para pendemo itu tak aku kenal. Mereka bukan orang desa kami. Ya, hanya segelintir yang orang desa dan juga petani. Selebihnya, yang memakai pengeras suara itu tak aku kenal. Dari kejauhan kala melihat demo itu, bapak tersenyum kecut.

Kakakku, Marto, termasuk yang ikut demo itu.  Dia semangat sekali membawa parang saat demo. Kala itu, aku masih mahasiswa semester 1. Sebenarnya aku sangat semangat untuk ikut demo, tapi bapak sudah bilang bahwa aku tidak boleh ikut demo. Omongan bapak selalu aku pegang tanpa aku tanya alasannya. Setiap bicara bapak sangat berwibawa sehingga membuatku tak pernah melawannya. Sementara untuk kasus demo itu, bapak tak pernah melarang kakakku ikut berdemo.

Setelah sepekan aksi demonstrasi dilakukan, kakakku kecewa. Dia membeberkan si pemimpin demo. "Ternyata Mardi itu tukang demo bayaran pak. Dia hanya menggerakkan massa untuk bisa mendapatkan keuntungan dari pengembang. Cara kerjanya memang seperti itu. Sekarang ngga tahu dia pergi ke mana. Sebagian dari pendemo itu juga orang-orangnya Mardi," kata kakakku pada bapak sambil geleng-geleng kepala. Bapak tak berkomentar sedikit pun. Memang bapakku seperti itu. Kakakku juga paham bahwa dia ditipu dan dia harus belajar dari aksi demo itu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline