Terik mentari terhadang, malu bersinar dipanasnya pagi. Pohon nan hijau mulai kering, mulai hitam, mulai kelam, gugur dan terbaur tak beraturan dibawah hitamnya awan tanpa terik yang seharusnya terik memerah.
Semua hitam itu menjadi saksi atas semangat mu yang hilang kawan. Semangat mu sedang goyah, semangat mu sedang terkubur kawan.
Hilir mudik para petani menuju persawahan dengan senyuman saling sapa jadi saksi dan pengobat luka. Sedikit tertarik senyum dipipi, sebagai bukti menipu diri.
Cepatlah cerah sang mentari, sebagai pengantar semangatnya sang penutur, sebagai pemancar semangatnya sang penyemangat, sebagai pemancar semangatnya sang kawan penyemangat.
Ingat kawan, Tuhan tidak tidur, Tuhan tidak lupa dan Tuhan tidak sedang berkata-kata, karena Tuhan maha asyik dalam menguji rasa.
Bangkit Bangkit dan Bangkit Kawan.
Brebes, 25 Februari 2020
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H