Nama : Kenanga Putri Ayu
NIM : 43221010011
Mata Kuliah : Pendidikan Anti Korupsi dan Etik UMB
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Apollo, M.Si.Ak
Korupsi adalah gejala masyarakat yang dapat dijumpai di hampir segala tempat. Korupsi berasal dari kata latin "corruptio" atau "corruptus" yang berarti kerusakan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, dan tidak bermoral kesucian. Upaya pemberantasan korupsi sudah dilakukan sejak lama dengan menggunakan berbagai cara, sanksi terhadap pelaku korupsi sudah diperberat, namun hampir setiap hari kita masih membaca atau mendengar adanya berita mengenai korupsi.
Soemardjan sebagaimana dikutip oleh Parwadi (2007: 58) menyatakan bahwa korupsi itu ibarat 'pelacuran'. Siapapun yang terlibat, apakah pihak yang langsung melakukan korupsi atau penikmat, sama-sama mendapatkan bagian hasil korupsi. Lain halnya dengan Parwadi yang mengatakan korupsi tak ubahnya seperti 'candu' dan pelakunya seperti 'pecandu' pengguna obat-obatan terlarang, sekali korupsi me-reka akan ketagihan untuk mengulanginya dan mengulanginya lagi.Korupsi tidak pernah dapat dilepaskan dari interaksi kekuasaan.
Sebagaimana dikatakan Arendt (1993: 302), para politikus yang masih bermental animal laborans dimana orientasi kebutuhan hidup dan obsesi akan konsumsi masih mendominasi, cenderung menjadikan politik sebagai mata pencaharian utama. Akibatnya, korupsi pun tidak terelakkan lagi
Apa sebenarnya struktur itu?
Menurut Giddens (2003: 21) struktur adalah rules and resources (aturan-aturan dan sumberdaya-sumberdaya) yang bisa disendirikan dan menghasilkan risiko yang jelas, yakni kesalahan interpretasi. Struktur dapat dikatakan ada di berbagai sendi kehidupan masyara-kat; seperti ilmu pengetahuan, wacana, budaya, tradisi, dan ideologi. Struktur terbentuk atau melekat dalam tindakan. Struktur merupakan 'pedoman' yang dapat merentang dalam ruang dan waktu menjadi prinsip-prinsip sang agen untuk melakukan suatu tindakan (seperti kejahatan).
Struktur lambat laun akan menjadi sistem dalam kehidupan jika berulang dan teregulasi atau terlegitimasi oleh gugusan struktur yang akhirnya menjadi sistem budaya yang tidak dipertanyakan lagi. Nilai-nilai yang sudah mapan dalam kondisi ini akan tergerus seiring deng-an proses strukturasi yang berulang dalam kehidupan masyarakat. Daya kritis akan melemah dan tergantikan dengan struktur-struktur yang melembaga akibat 'kesadaran praktis (Priyono, 2002: 28-29).