Lihat ke Halaman Asli

Kazena Krista

TERVERIFIKASI

Fotografer

Jadi Female Wedding Photographer Bukan untuk Gaya-gayaan

Diperbarui: 1 Maret 2021   07:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto couple session di sebuah acara pernikahan. (Foto oleh Kazena Krista)

"Lakukan apa yang kau cintai" adalah kalimat bijak usang yang masih banyak diaminkan orang. Ada pula yang berkata begini "lakukan apa yang membuatmu takut agar kau berkembang"—yang ini jelas tak sepenuhnya salah juga. Malah bisa dianggap pembenaran agar seseorang maju.

Tapi, coba kombinasikan jadi begini, "lakukan apa yang kau cintai dan taklukkan apa yang membuatmu takut!"

Contoh sederhana ketika saya memutuskan untuk menjadi fotografer komersil. Saya memilih wedding sebagai genre fotografi yang saya tekuni (meski bukan satu-satunya genre yang saya suka). 

Bicara—mendokumentasikan—fotografi acara pernikahan, kalau boleh jujur tiap "show" yang saya lakoni saya masih selalu belajar mengendalikan rasa takut saya.

Sebagai fotografer yang terjun secara profesional sejak 2015, entah sudah berapa puluh pasang (atau ratusan?) pengantin yang saya foto. Saya tak ingat pasti berapa bilangannya. 

Pun, saya juga tak pernah menghitung sudah berapa banyak suka dan duka yang tercampur layaknya gado-gado yang saya dapatkan selama saya di lapangan. Anehnya, saya—masih—menikmatinya.

Saya akui menjadi fotografer yang mengabadikan momen awal baru dari sepasang manusia mempunyai kebanggaan tersendiri meskipun saya meyakini wajah saya tak akan pernah masuk dalam kepala mereka—alih-alih mereka mengingat nama saya. Fyi, job pernikahan yang kadang saya jalani lebih banyak didapat dari calling-an teman sesama fotografer yang saya kenal.

It means words by mouth about your skill it’s a thing—it’s important. 

Ya, meskipun portofolio saya nggak rapi-rapi amat karena saya juga punya pekerjaan lain di luar menjadi fotografer.

Tapi, tolong dicatat—kalau perlu di-bold dan di-underlinebahwa menjadi fotografer pernikahan apalagi jika kau perempuan bukan perkara mudah dan tentu saja bukan untuk gaya-gayaan.

Kau tahu, meskipun terselip rasa bangga ketika saya menenteng kamera saat saya menunaikan tugas saya di lapangan sebagai fotografer, terkadang saya masih saja dibekap rasa khawatir—alih-alih tidak ingin disebut rasa takut yang berlebihan sih—dari tiap tatapan mata para tamu yang bertubruk pandang dengan mata saya.

Saya bisa langsung diserang rasa frustrasi yang tiba-tiba dan membabi buta.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline