Lihat ke Halaman Asli

Katedrarajawen

TERVERIFIKASI

Anak Kehidupan

Jujur Pada Ketidakjujuran, Mengapa Tidak Berani?

Diperbarui: 26 Juni 2015   16:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Untuk bersikap jujur pada keadaan normal saja sulit dilakukan , apalagi harus jujur ketika telah bersikap tidak jujur! Sungguh muka mau taruh dimana dan beban berat untuk menanggung rasa malu !

Setelah menulis sekian banyak tentang kejujuran , ternyata saya tetap belum bisa dan berani bersikap jujur 100 % . Tapi minimal saya masih berani bersikap jujur pada diri sendiri bahawa saya belum juga bisa jujur pada setiap keadaan . Yang paling parah adalah masih menyimpan kebohongan pada Tuhan dalam perilaku sehari-hari .
Untuk itu saya tidak berani minta maaf , selain menyadarkan diri dan bertekad untuk merubahnya segera .

Banyak yang mengatakan untuk menjadi jujur itu sulit , itu adalah realitanya. Bila demikian pasti lebih sulit lagi untuk bersikap jujur ketika telah bersikap tidak jujur .

Tidak heran , begitu kita akan mati-matian untuk menutupi ketidakjujuran yang telah dilakukan . Segala cara dilakukan agar tidak terbongkar . Bahkan ketika ketahuan pun , kita masih akan rela membela diri dengan membayar mahal pengacara atas nama hukum dan HAM .

Luar biasa ! Contoh nyatanya adalah para koruptor di negeri ini . Belum ada sejarahnya , ada koruptor yang berani jujur mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada rakyat yang uangnya telah diambil . Yang ada , adalah pembenaran , tidak tahu atau khilaf . Akibat rasa malunya .
Kesalahan ditutupi kesalahan !

Ada yang mengatakan , semua ini karena urat malunya sudah putus , tapi menurut
saya justru karena urat malunya terlalu alot , sehingga tidak bisa dikendurkan.
Yang lebih utama , kita tidak berani bersikap jujur pada ketidakjujuran adalah akibat kebesaran ke-malu-an alias benar - benar malu_sekali !

Masih banyak contoh - contoh yang bisa kita temukan dikehidupan sehari-hari tentang ketidakjujuran yang telah dilakukan namun tiada nyali untuk mengakuinya ketika ketahuan .

Bila berani berlaku tidak jujur ,seharusnya berani juga untuk berlaku jujur , mengapa mesti malu mengakuinya ?
Keangkuhan terlalu tinggi , sehingga tiada kerendahan hati untuk mengakui kesalahan .

Bila malu untuk jujur telah bersikap tidak jujur , seharusnya tidak boleh berani untuk melakukan hal yang tidak jujur. Mengapa tidak malu untuk berani melakukannya ?
Karena kebodohan dan ketidaksadaran dirinya sebagai manusia yang bermartabat dan mulia .

Itulah yang seringkali dan masih terus berlangsung di negeri yang katanya religius ini . Ketidakjujuran ditutupi lagi dengan ketidakjujuran demi ketidakjujuran .

Mengapa sulit untuk jujur pada ketidakjujuran?
Mengapa tidak ada niat baik untuk membuka ketidakjujuran itu dengan sebuah kejujuran untuk kebaikan dan meringankan beban rasa bersalah ?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline