Dalam kesunyian malam, di sebuah kamar yang hanya disinari cahaya rembulan melalui jendela, terlihat
seorang ibu yang duduk termenung sembari menatap foto anak tercinta yang tersimpan rapi di meja samping tempat tidurnya. Wajahnya yang teduh menyimpan ribuan makna, mata yang lelah berusaha menyembunyikan kisah yang dalam.
"Ibu," katanya dalam sunyi, "telah menyimpan luka yang dalam, luka batin yang tak pernah kau lihat, Nak." Luka yang tercipta dari kekecewaan, kesalahpahaman, hingga air mata yang jatuh membasahi bumi dalam diam.
Namun semua itu, Ibu simpan rapat, Ibu kunci erat di dalam hati, karena cinta Ibu padamu melebihi segalanya."
Setiap hari, senyumnya bagai lentera yang memberikan cahaya dan kehangatan bagi siapa saja yang melihatnya, terutama anak-anaknya.
Namun, di balik hangatnya senyuman itu, tersembunyi kisah luka yang tak pernah terucap, rasa sakit yang dipendam sendirian, demi menjaga hati dan perasaan anak-anaknya. Ibu selalu ingin menjadi pelindung, menjadi penghibur, meski harus meminum segala kepahitan sendirian.
Kisah hidupnya bagaikan melodi yang syahdu sebuah perjalanan yang penuh warna, namun beberapa di antaranya adalah warna kelabu yang dipilih untuk disimpan dalam hati saja.
Hingga pada akhir hayatnya, luka itu masih tersimpan, menyertai setiap tetes air mata yang jatuh dalam keheningan, namun juga dengan senyuman kelegaan bahwa dia telah melaksanakan perannya dengan sebaik-baiknya.
Di akhir cerita hidupnya, dia membawa pergi semua luka dan sakit hati itu, meninggalkan kenangan tentang seorang ibu yang penuh kasih, yang rela berkorban, serta senyum yang selalu terpahat di wajahnya, sebagai simbol kekuatan dan ketulusan cintanya.
Ibu, sosok pejuang tanpa tanda jasa, yang mengajarkan tentang cinta, pengorbanan, dan kekuatan hati yang sejati.
REVIEW BUKU MELAMPAUI LUKA IBU