Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Adib Mawardi

TERVERIFIKASI

Sinau Urip. Nguripi Sinau.

Induk Ayam dan Anak-anaknya

Diperbarui: 7 Januari 2021   11:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi induk ayam dan anak-anaknya (Phoenix Han/Unsplash)

Di suatu malam, ketika suara binatang malam kian lantang terdengar, tampak segerombolan ayam yang bernaung di sebuah keranjang usang. Dalam suasana penuh kehangatan itu, seperti biasanya, si induk ayam bercerita pada anak-anaknya tentang kehidupan.

Sembari mengiringi waktu beristirahat, setiap malam sang induk ayam selalu bercerita pada anak-anaknya tentang siapakah sebenarnya diri mereka, apa yang harus mereka lakukan semasa di buwana sebelum mereka kembali ke hadapan Sang Penciptanya.

Selain wejangan tentang kehidupan, sang induk ayam taklupa membekali anak-anaknya itu keterampilan hidup yang lain, seperti kiat tentang cara nyeker yang benar untuk mengais penghidupan melalui apa saja yang dapat mereka temui dari alam.

Di sela-sela pembelajaran kurikulum kehidupan itu, sang induk ayam tak luput mendidik anak-anaknya tentang ajaran keseimbangan yang harus senantiasa mereka jaga, setelah memungut apa saja dari alam, sehingga mereka takkan mengaisnya secara berlebihan.

Dengan memedomani sikap itu, setidaknya sang induk itu dapat mengharap bahwa anak-anakanya kelak akan tumbuh sebagai sosok-sosok bijak yang berperikeayaman.

***
Dini hari, sebelum sang jago (bapak dari si anak-anak ayam) itu berkokok, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sorotan cahaya yang begitu menyilaukan mata. Cahaya yang berpendar teramat terang itu begitu mengusik ketenangan istirahat si anak-anak ayam yang saat itu juga tengah berjuang mengusir gigil yang merayapi tubuh mereka.

Saat embun pagi mulai turun, biasanya mereka berburu kehangatan dengan berselimut tindih badan induk mereka.

Sejurus kemudian, di balik sorot cahaya yang menusuk mata itu, mereka mendapati sepasang tangan manusia yang mencengkeram erat dan membawa babon mereka.

"Keok.. Keok.. Keok.." teriak sang babon dengan begitu kerasnya memecah keheningan, diiringi dengan pandangan anak-anaknya yang menatap penuh iba.

Pada waktu yang terasa sangat mencekam itu, tiba-tiba sang babon sangat mengharap kepada Sang Pemilik kehidupan agar semua anaknya itu kelak akan mampu menyerap semua pesan yang pernah ia sampaikan, sehingga mereka akan dapat melepas dirinya dengan penuh kesiapan.

Begitu kuat angan-angan sang babon mengenai hal itu. Sebab ia merasa jikalau saat itu merupakan momentum awal bagi mereka untuk melanjutkan hidup dengan penuh kemandirian.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline