Lihat ke Halaman Asli

Kakashi Dsensei

Blogger dari kota Batam

Tornado Efisiensi-Bahaya di Balik Efisiensi dan Lomba Adu Murah dalam Mengejar Surplus Perdagangan

Diperbarui: 10 Februari 2022   12:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

TORNADO EFISIENSI

BAHAYA DI BALIK EFISIENSI DAN LOMBA ADU MURAH

DALAM MENGEJAR SURPLUS PERDAGANGAN

( SAHAT PANDAPOTAN, SM )

Saat ini dalam buku-buku ekonomi dan kewirausahaan banyak menyertakan pengetahuan tentang bahaya VUCA ( Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah (mengambang, tidak pasti, kompleks, ambigu/keraguan ).

Pasti semuanya setuju, bahwa perusahaan tidak bisa beroperasi terus menerus dalam kondisi defisit, tidak memiliki untung, tentu hidup perusahaan itu akan ditopang oleh utang. Namun utang harus dibayar. Suatu saat perusahaan itu akan berhenti beroperasi atau kolaps.

Demikian pula sebuah negara yang terus menerus defisit perdagangan, yakni dimana penjualan ekspornya tidak dapat menutupi utangnya atau biaya hidup negaranya. Negara seperti itu akan mengandalkan utang luar negeri dan investasi asing, yang mana bila berlangsung terus menerus akan mengantarkan negara tersebut ke dalam krisis.

Oleh karena itu semua negara pasti berlomba untuk mencapai “SURPLUS PERDAGANGAN”. Yaitu dengan memenangkan perang dagang melawan negara lain yang sering dinamakan KOMPETISI.

Misalkan Negara A menjual produknya “KURSI/MEJA KAYU” ke pasar Internasional dengan harga 100 dollar. Tentu negara B, C, D dst akan berlomba-lomba menjual produk yang sama dengan itu dengan harga di bawah 100 dollar, agar negara pembeli / konsumen membeli produk mereka. Siapa sih yang tidak tertarik dengan produk berkualitas sama namun dengan harga jauh lebih murah?

Sekilas terlihat wajar/normal. Begitulah persaingan yang terjadi di pasar manapun, baik pasar rakyat maupun pasar antar negara (internasional). Ada yang menjual mahal, ada yang menjual murah. Dan pembeli bebas menentukan produk mana yang ingin mereka beli (pembeli adalah raja).

Tapi tunggu dulu.

Mari kita lihat apa yang terjadi di balik persaingan tersebut.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline