Lihat ke Halaman Asli

Kartika E.H.

TERVERIFIKASI

2020 Best in Citizen Journalism

Memahami Silaturahmi sebagai Kebutuhan dari Kisah Hanacaraka

Diperbarui: 1 Mei 2020   14:56

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Aksara Hanacaraka | dutawisata.co.id

Ha Na Ca Ra Ka
Da Ta Sa Wa La
Pa Dha Ja Ya Nya
Ma Ga Ba Tha Nga 

Beruntunglah kita ditakdirkan hidup di bumi nusantara yang sarat dengan kisah mite atau mitos, legenda, fabel, sage, epos dan beragam cerita dongeng jenaka atau apapun namanya yang selalu bisa menjadi teman bagi kita untuk bercermin sekaligus belajar mengenal dunia berikut isinya melalui berbagai hikmah yang dikandungnya.

Salah satu kisah legenda nusantara sarat hikmah yang tetap aktual dalam  situasi dan juga aktifitas "muamallah" di era milenial sekarang adalah kisah Carakan atau Hanacaraka yang kelak kita kenal sebagai susunan karakter aksara Dentawyanjana atau huruf Jawa seperti diatas yang sangat populer di Pulau Jawa dan Bali.

Sejatinya, 20 aksara Dentawyanjana atau huruf Jawa yang kita kenal sejauh ini bukanlah sekumpulan aksara yang hanya bisa dipakai oleh cerdik pandai dan para pujangga Jawa dimasa lalu untuk menyusun kata dan kalimat sebagai media perekam peradaban, termasuk  berbagai ilmu pengetahuan masyarakat Jawa dimasa lalu belaka.

Hanacaraka Bali |terunaterunidps.com

Ini luar biasanya! 

Susunan dari 20 (dua puluh) aksara yang terbagi rata menjadi 4 (empat) baris atau lajur ini, bila dibaca dan dilafalkan per-baris maka masing-masing akan membentuk sekalimat syair berbahasa Jawa yang sarat makna, dan bila keempat kalimat syair tersebut dirangkai, maka akan terbentuk sebuah kisah menakjubkan yang kita kenal sebagai legenda Hanacaraka yang memuat kisah dua orang abdi dalem Prabu Ajisaka, raja Kerajaan Medang Kamulan.

Kalimat syair, baris pertama dalam bahasa Jawa lugas bisa dirangkai menjadi hana caraka yang berarti “ada utusan”. Kalimat syair selanjutnya, adalah data sawala yang artinya “saling berkelahi”, padha jayanya berarti “sama kuatnya” dan maga bathanga yang berarti “(akhirnya) sama-sama mati”

Jika dirangkai, maka kalimat syairnya menjadi sebagai berikut, 

Ada dua utusan 

Saling berkelahi. 

Sama kuatnya, 

Sama-sama mati.

Dalam susunan kalimat yang lebih lugas dan fleksibel bisa dirangkai menjadi 

"Ada dua utusan yang saling berkelahi, tapi karena sama kuatnya (memegang prinsip dan kesaktiannya), mereka berduapun sama-sama mati".

Hikmahnya?

Menurut legenda, kisah lengkapnya berawal dari pengembaraan seorang anak muda sakti bernama Ajisaka, bersama asistennya yang sangat setia bernama Dora ke Kerajaan Medang Kamulan untuk menghentikan kebiasaan kanibal Sang Raja Prabu Dewata Cengkar yang suka memakan daging manusia, sehingga membuat rakyatnya sendiri ketakutan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline